Comscore Tracker

Mengenal Mila Marlina, dari Ultra-Trail hingga Berlari untuk Amal

“Saya tidak berlari untuk uang, sebaliknya malah banyak mengeluarkan uang"

Oleh Ari Susanto

SOLO, Indonesia —Jika ada orang yang percaya lari bisa membuat hidup bahagia, Mila Marlina adalah satu di antaranya. Ketika ditanya motivasinya berlari ke berbagai negara, perempuan 46 tahun ini akan menjawab satu hal–kebahagiaan.

Bagi penggemar olahraga ekstrem trail-run di Indonesia, sosok perempuan asal Solo ini mungkin sudah tak asing lagi. Dalam lima tahun terakhir, hampir di setiap event lari jelajah gunung dan lintas alam, sosok perempuan mungil ini selalu ada. 

Tidak hanya di gunung-gunung Nusantara, seperti Bromo, Rinjani, Gede-Pangrango, dan Tambora, Mila juga gemar berlari di luar negeri. Puncaknya, tahun lalu, ia menjadi satu-satunya perempuan Indonesia–dua lainnya laki-laki–di lomba lari ultra-marathon paling bergengsi di dunia, Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB) 170K

Event lari melintasi pegunungan di tiga negara, Perancis, Italia, dan Swiss, dalam waktu 46 jam ini terkenal paling ketat dalam seleksi peserta. UTMB ibarat Piala Dunia dalam sepakbola. Untuk menjadi peserta, pelari harus mengumpulkan jumlah poin tertentu dengan mengikuti trail run yang berkualifikasi UTMB di berbagai negara.

Mengenal Mila Marlina, dari Ultra-Trail hingga Berlari untuk Amal'UTMB 2017'. Mila menjadi satu-satunya perempuan Indonesia di lomba lari ultra-marathon paling bergengsi di dunia, 'Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB) 170K'. Foto dari dokumentasi pribadi

Bukan atlet lari

Mila adalah ibu rumah tangga biasa dengan dua anak. Ia sama sekali tak memiliki latar belakang sebagai atlet profesional atau pendaki gunung sejak belia. Bahkan, ia baru mulai berlari sekitar lima tahun lalu, saat usianya menginjak 42 tahun–usia yang terlalu tua untuk menekuni olahraga atletik di mana kemampuan fisik mulai menurun.

Semuanya bermula enam tahun lalu saat kematian sang ayah, yang merupakan sosok panutan yang paling ia cintai dalam keluarga. Jiwa Mila sempat tergoncang karena kehilangan. Untuk mengubur kesedihan yang berlarut, ia mencari kegiatan luar ruang yang menyenangkan. 

Pilihan pertama adalah mendaki Gunung Rinjani atas ajakan teman-temannya. Ia merasakan kedamaian saat mendaki dan akhirnya kecanduan untuk mengisi hari-harinya dengan mendaki gunung-gunung di Indonesia. 

Mila bahkan mendaki sampai Puncak Yala (5.700 m) di Himalaya, Kinabalu (4.100 m) di Sabah, dan Kilimanjaro (4.900 m) di Tanzania. Di gunung tertinggi di Amerika Selatan, Aconcagua (6.900 m), ia terpaksa menyerah di ketinggian 6.300 meter sebelum puncak karena mengalami hipoksia–gejala kekurangan suplai oksigen dalam tubuh akibat ketinggian yang bisa berakibat pingsan.

Untuk menjaga stamina saat mendaki, Mila berlari sejauh 10 kilometer hampir setiap hari. Pada 2014, ia iseng mengikuti Bali Marathon 42K untuk mencoba batas kemampuannya.

“Saya tidak yakin finish. Biasanya hanya berlari 10 kilometer, ini ditantang maraton,” ujarnya mengenang momen lari jarak jauh yang pertama kali diikutinya.

Di luar dugaan, Mila mampu menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 4 jam 41 menit, jauh di bawah waktu tempuh maksimum yang ditetapkan panitia, 7 jam. Finis di urutan ketujuh kategori master–usia di atas 40 tahun–bukan pencapaian buruk sebagai pelari mula.

Selain mendaki gunung, Mila akhirnya menemukan kebahagiaan baru–berlari. Ia telah membuktikan berbagai penelitian ilmiah bahwa lari sangat efektif untuk mengatasi depresi, membuat hidup lebih bahagia, dan memperpanjang usia. Salah satu penyebabnya, aktivitas olahraga ini menghasilkan endorfin, yakni hormon yang membuat manusia merasa bahagia.

Mengatasi ketidakmungkinan

Untuk menjadi pelari, Mila sebenarnya memiliki banyak ketidakmungkinan yang menghalanginya. Tetapi, ia berhasil menyingkirkan itu semua dan membuktikan bahwa ia bisa.

Selain usia, sejak kecil Mila mengalami kondisi flat feet atau telapak kaki datar yang secara medis diidentifikasi akibat genetik atau pertumbuhan otot yang kurang sempurna. Secara anatomis, kondisi ini tidak mendukung seseorang menjadi pelari atau melakukan kegiatan olahraga yang membutuhkan kekuatan kaki sebagai tumpuan. 

Alasannya, kaki datar lebih cepat lelah dan gampang terkena cedera karena pergerakan yang tidak normal. Namun Mila tetap bersikukuh berlari ratusan kilometer, meski beberapa kali otot-otot pada kakinya mengalami cedera dan kelelahan.

Mila juga memiliki rekam medis penyakit asam lambung, di samping mioma uteri dan kista–secara genetis, keluarga besarnya punya riwayat tumor dan kanker. Pengalaman buruk dengan asam lambung masih sering dirasakan saat lari trail run. Akibatnya, ia muntah-muntah sendirian di tengah hutan.

Alih-alih menyerah, Mila tak pernah kapok dan malah semakin keranjingan dengan olahraga yang menuntut kekuatan dan stamina super ini. Ia serasa menganggap semua penyakitnya tak pernah ada pada tubuhnya.

“Semakin banyak lari, saya semakin lupa, dan tak mau memikirkannya. Justru dengan berlari, cara pandang saya berubah, lebih positif dan merasa sehat-sehat saja,” ujar perempuan yang punya body age (umur biologis yang didasarkan pada usia sel tubuh) 18 tahun ini. 

Mila mengakui bahwa dirinya termasuk perempuan yang selalu mencoba melakukan sesuatu melewati batas kemampuannya. Lewat lari, ia ingin menginspirasi banyak perempuan lainnya untuk tidak gampang menyerah menghadapi kesulitan.

Mengenal Mila Marlina, dari Ultra-Trail hingga Berlari untuk AmalLATIHAN. Mila sering berlatih lari di lereng Gunung Lawu. Foto dari dokumentasi pribadi

Go beyond your limit, jangan membatasi apa pun,” ungkap perempuan yang gemar berlatih lari di hutan lereng Gunung Lawu ini.

Hidup untuk berlari

Sejak debutnya di Bali Marathon, hidup Mila seperti tak bisa lepas dari lari. Hampir hari-harinya ia habiskan untuk mengikuti lomba lari di berbagai daerah dan negara.

Setelah ikut beberapa maraton, ia mencoba lomba yang lebih menantang–trail run. Aktivitas yang semakin banyak digemari di Indonesia ini sebenarnya merupakan perpaduan antara olahraga lari dan petualangan.

Tantangannya, pelari harus menyelesaikan rute off-road, melintasi alam terbuka dengan jalur tak rata, mendaki, menurun, berkelok, serta melewati hutan, lereng pegunungan, dataran tinggi, dan ngarai. Jaraknya bervariasi, dari maraton (42K), hingga kategori ultra-marathon seperti 75K, 100K, 120K, 170K, hingga di atas 200K.

Selain fisik prima, olahraga ini membutuhkan adaptasi terhadap temperatur dan cuaca serta kemampuan bertahan sendiri di alam terbuka. Bahkan, dalam ultra-trail run, peserta juga harus siap berlari pada malam hari menembus hutan gelap dengan hanya berbekal penerangan head lamp.

Berbeda dengan maraton biasa di jalur aspal, trail run melewati medan yang jauh dari keramaian sehingga sangat sulit mencari pertolongan ketika mengalami masalah seperti tersesat, sakit, atau cedera. Tak seperti maraton biasa, water station sangat terbatas, sehingga pelari mesti membawa botol minum dan makanan sendiri saat diperlukan.

“Terkadang butuh jaket dan baju hangat karena suhu di pegunungan bisa drop tiba-tiba. Seperti di Mont-Blanc, suhu mencapai minus 11 derajat saat lomba,” ujar Mila.

Percobaan trail run pertama Mila dimulai 2015 saat mengikuti peringatan 200 Tahun Tambora Menyapa Dunia. Di ajang 42K ini, ia finish di urutan pertama, dengan catatan waktu 8 jam dari 10 jam yang disediakan panitia.

Mila lalu mencoba jarak yang lebih jauh 45K, 70K, 100K, dan semuanya berhasil finis. Ia menjadi satu-satunya perempuan yang mengikuti Mesa Stila Peak Challenge 100K, lomba trail run bergengsi di Indonesia yang berkualifikasi UTMB, melewati lima puncak di Jawa Tengah–Merapi, Merbabu, Andong, Gilituri, dan Telomoyo.

Meski demikian, perjalanan Mila tak selalu mulus. Di Gede-Pangrango 45K, ia sempat gagal finis akibat terhalang badai gunung. Sementara di Bromo-Tengger-Semeru 170K, ia mengalami cedera serius pada otot kaki yang membuatnya tak bisa melanjutkan perlombaan.

Dokter menyarankan agar ia mengurangi porsi latihan harian. Namun, Mila tetap berlari seperti biasa. Bahkan, jika melewati satu hari tanpa latihan, ia menghitungnya sebagai utang dan besoknya ia akan menggandakan jarak tempuh latihan.

Berlari untuk amal

Mila berprinsip tak pernah berlari untuk mencari uang atau popularitas. Bahkan, ia tidak mau disebut atlet, karena ia tidak berorientasi pada prestasi, dan tidak pula bernaung di bawah organisasi olahraga profesional semacam Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Aktivitas Mila benar-benar independen, meski dalam beberapa event internasional, ia membawa nama Indonesia. Ia mencukupi semua kebutuhannya sendiri, mulai dari peralatan, latihan, biaya pendaftaran, tiket transportasi, akomodasi, hingga visa. Ia mengakui bahwa biaya yang ia keluarkan jauh lebih ketimbang hadiah yang ia peroleh.

“Saya tidak berlari untuk uang, sebaliknya malah banyak mengeluarkan uang. Sepatu saja, misalnya, saya boros dan harus sering ganti,” ujar perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Australia itu.

Mila juga menjadikan olahraga lari sebagai ajang kampanye sosial–berlari dan beramal. Bekerja sama dengan Kitabisa.com, ia dan kawan-kawan memelopori penggalangan dana untuk pengembangan kualitas guru di Indonesia melalui seri ultra-marathon NusantaRun.

Chapter 5 NusantaRun yang menempuh jarak 128K Purwokerto-Dieng berakhir Desember 2017 lalu, meneruskan seri tahun-tahun sebelumnya Jakarta-Bogor (53K), Bogor-Bandung (118K), Bandung-Cirebon (135K), dan Cirebon-Purwokerto (145K). Penggalangan dana itu berhasil membuahkan pembangunan SMP Intan Permata di Purwokerto dan membiayai guru-gurunya. 

“Para guru membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan kualitas mengajar. Lewat NusantaRun, kami akan menggunakan seluruh donasi untuk pengembangan sekitar 400-an guru di Dieng yang belum kompeten,” ujar Mila.

Mila gusar dengan kondisi tenaga pengajar di pelosok yang belum mumpuni. Hasil dari Uji Kompetensi Guru (UKG) dua tahun lalu di dua kecamatan di Dieng, Batur (Banjarnegara) dan Kejajar (Wonosobo), 75 persen guru masih belum melampaui passing grade 55. Di Banjarnegara, hasil UKG menempatkan guru SD di kabupaten itu berada di urutan 24 dari 35 kabupaten/kota.

“Di setiap jalur, kami ingin meninggalkan jejak kebaikan dan mengajak orang-orang untuk peduli dan berbagi untuk pendidikan anak-anak,” kata perempuan yang kini sedang mempersiapkan diri mengikuti Mount Gaoligong Ultra di Tiongkok itu.

Selain NusantaRun, Mila juga tengah membuat rancangan charity run ultra-marathon Jogja-Semarang 150K melalui jalur Ketep Pass di Merapi.

—Rappler.com

Line Ads

Topic:

Just For You

I Want More !