Comscore Tracker

Prediksi Final Piala Dunia Prancis vs Kroasia: Drama Belum Usai!

Prancis akan mengulang sukses atau juara baru akan muncul?

Oleh Choki Sihotang

JAKARTA, Indonesia —Dan, akhirnya, dua negara bertemu di final: Prancis vs Kroasia. Perjuangan panjang dan mendebarkan untuk menggenggam dunia di Rusia tinggal setarikan napas lagi.

Yup! Prancis, pun Kroasia, bakal bertempur habis-habisan demi gelar bergengsi di pentas terakbar empat tahunan, Minggu, 15 Juli.

Satu kata buat Prancis dan Kroasia: hebat! Prancis ke final setelah sukses menggebuk Belgia, sedangkan Kroasia melumat Inggris. Dua laga semifinal yang menegangkan.

Perjalanan yang menawan

Menilik ke belakang, terhitung sejak babak penyisihan grup, perjalanan Prancis maupun ke Kroasia begitu menawan. Prancis sempat kurang meyakinkan, namun bisa meningkatkan performa dengan tuaian mengagumkan. 

Les Bleus memang susah payah atas Australia, 2-1. Mereka menunggu waktu yang sangat lama untuk bisa menjebol gawang Australia, menit 58. Itupun dari tendangan penalti yang sukses dimaksimalkan Antoine Griezmann. Skuat besutan Didier Deschamps sempat was-was, menyusul gol balasan lawan pada menit ke-62 yang juga tercipta dari tendangan penalti Mile Jedinak. Gol bunuh diri pemain Australia, Azich Behich, jelang laga usai, menyelamatkan muka Prancis. 

Melawan Peru, Griezmann dkk. juga hanya mampu menang 1-0 berkat gol semata wayang Kylian Mbappe pada menit ke-34. Juara Piala Dunia 1998 menutup duel penyisihan Grup C dengan bermain imbang tanpa gol melawan Denmark. Mengoleksi tujuh poin, Prancis juara grup. 

"Ayam Jantan" baru panen pujian yang sesungguhnya tatkala tampil kinclong versus Argentina di babak 16 besar. Bermain spartan, Prancis menggulung La Albiceleste yang dimotori Lionel Messi, 4-3. Permainan Prancis semakin menggila di babak delapan besar, menggiling Uruguay dua gol tanpa balas. Dua gol kemenangan diceploskan Raphael Varane serta Griezmann. 

Prancis kian disanjung dan diyakini bisa mengulang sukses setelah berhasil menggebuk musuh bebuyutan mereka, Belgia, di babak semifinal. Gol semata wayang Samuel Umtiti pada menit ke-51 menuntaskan dendam berkarat Prancis sejak perseteruan 1904. Sedikitnya, Prancis-Belgia sudah 74 kali bersua dan hasilnya, Belgia mengoleksi 30 kemenangan. Prancis 24 kemenangan. Sembilan belas laga lagi berujung draw. Jadi bisa dibayangkan, kemenangan ini disambut penuh suka cita oleh rakyat Prancis. 

Kini, Prancis, selangkah lagi naik podium kehormatan. Itu jika Les Bleus bisa mengalahkan tim yang tak kalah kuat: Kroasia.

Awalnya tak diunggulkan

Kroasia, sedari awal Piala Dunia 2018 bergulir, bukanlah tim yang diunggulkan. Sah-sah saja sebenarnya, sebab Vatreni, bila disandingkan dengan kontestan lainnya yang punya nama besar katakanlah seperti Jerman, Brasil, Spanyol, Argentina, pun Prancis, skuat asuhan Zlatko Dalic bukanlah siapa-siapa.

Kroasia, dalam sejarahnya, belum sekalipun memenangkan Piala Dunia. Prestasi terbaik hanya sampai semifinal dan itupun sudah sangat lama berlalu, 1998. 

Akan tetapi, benar juga kata banyak pengamat bahwa bola itu bundar. Semua bisa terjadi dan tak ada yang pasti di sepak bola, terlebih di pentas seketat Piala Dunia. Fakta kemudian berbicara, Kroasia ternyata luar biasa. Dua jempol untuk Luka Modric Cs. Satu persatu korban berjatuhan, tersungkur.

Sebelum menggiling Inggris, 2-1, di semifinal, Kroasia sebenarnya sudah mengirimkan sinyal bahaya bagi tim-tim lawan, dimana mereka finis sebagai juara Grup D dengan tiga kemenangan sempurna. Menang 2-0 atas Nigeria. Lalu menang 2-1 atas Islandia. Yang mengerikan, Modric and kolega, diluar dugaan, menguliti Argentina dengan skor mencolok, 3-0. Kekalahan ini bahkan membuat Messi geleng-geleng kepala. Di tribun kehormatan, Diego Maradona, menangis perih. 

Di babak 16 besar, giliran Denmark yang dimasukkan Kroasia ke dalam koper usai menang via drama tendangan penalti. Kroasia juga menang adu penalti ketika bersua tuan rumah Rusia di babak delapan besar. 

Akhir yang mendebarkan

Pertanyaannya sekarang, Prancis atau Kroasia? Yang pasti, hanya ada satu pemenang di akhir laga. Siapa? Banyak yang menjagokan Prancis, namun tak sedikit pula yang kini justru berpihak kepada Kroasia. 

Bisa dipastikan, partai puncak bakal bergulir mendebarkan. Baik Prancis, terlebih Kroasia, siap 1000% berjibaku, bertarung di semua lini, hidup mati. Dua pelatih adu taktik demi yang hasil terbaik. 

Prancis, suka atau tidak suka, harus mengakui Kroasia punya mental pemenang. Terbukti, disaat tertinggal 0-1 dari Inggris, lantaran gol kilat Kieran Trippier pada menit kelima, Kroasia tak ambruk semangatnya. Tetap tenang dengan formasi 4-2-3-1, Kroasia mampu menyamakan kedudukan dan selanjutnya memenangkan duel yang berlangsung di Luzhniki, Kamis, 12 Juli dini hari WIB. Ivan Perisic dan Mario Mandzukic merupakan pahlawan lewat gol yang tersuguh pada menit ke-68 dan 105.

Semangat Kroasia akan berlipat ganda, karena inilah momen yang pas untuk mengukir sejarah. Dengan kata lain, sekarang atau tidak sama sekali. Rakyat Kroasia terlalu lama untuk menunggu empat tahun lagi dan tak ada jaminan Kroasia bisa tampil gemilang laiknya kini. 

Menghadapi Prancis, Kroasia percaya diri sangat tinggi. "Masih ada satu pertandingan lagi dan kami belum mau berhenti," tandas Dalic, dilansir Novilist. 

Jelas, Dalic sedang tak bergurau. Itu peringatan serius, tepatnya ancaman mengerikan bagi armada Deschamps. "Kami belum (pernah) mendapatkan trofi dan kalau Tuhan memang menghendakinya maka kami akan juara," imbuh Dalic. 

Sejarah baru

Prancis sendiri tak risau, terkait kedigdayaan Kroasia. Penuh kayakinan, Deschamps menegaskan pasukannya bisa mengulang sukses. "Saya akan mengulanginya. Saya di sini untuk menulis sejarah baru," kata taktisi berusia 49 tahun. 

Deschamps, satu di antara 11 pemain inti Prancis kala memenangkan Piala Dunia 1998. Di final, Prancis melumat Brasil 3-0. 

Meski begitu, seperti kata Deschamps bahwa dirinya ingin memahat sejarah baru, pencapaian Prancis akan lebih bermakna jika sekiranya bisa berjaya di Rusia. Dua puluh tahun silam, Prancis mengangkat trofi di kandangnya, di hadapan ribuan pendukung setia, Stade de France, Saint-Denis, 12 Juli. Pesta di kandang lawan, tentulah lebih membahagiakan. Juara sejati. 

Piala Dunia 2018 akan usai tak lama lagi. Semua mata akan tertuju ke Stadion Luzhniki. Pranciskah yang akan mengulang sukses atau juara baru akan muncul? Hanya waktu yang bisa menjawab. 

Inggris dan Belgia belum kiamat. Setidaknya masih ada tempat ketiga untuk diperebutkan, Sabtu, 14 Juli. Penting bagi kedua negara, partai ini tak ubahnya final. Inggris juara 1966, kemudian 1990 peringkat keempat. Peringkat ketiga, bila bisa diraih, jadi obat pelipur lara sebelum kembali ke kampung halaman. Dan Harry Kane Cs tetap akan disambut tak ubahnya pahlawan. 

Belgia juga mengincar hal yang sama. Setelah 1986, "Setan Merah" mampu ke semifinal dan finis di posisi keempat, kini pasukan Roberto Martinez bernazar membawa medali kehormatan. 

Drama belum usai, bung! —Rappler.com

Topic:

  • Yetta Tondang

Just For You