Comscore Tracker

Melihat Sisi Lain Piton di Tangan Pehobi Reptil

Semakin lama, koleksi piton Aji terus bertambah

Oleh Irma Mufikah

KEBUMEN, Indonesia — Di alam bebasnya, ular piton dikenal buas dengan lilitannya yang mematikan. Ia kerap memangsa hewan besar bahkan manusia lalu menelannya mentah-mentah. Namun bagaimana jika ular-ular piton dengan panjang 8 sampai 10 meter justru dipelihara di rumah warga? 

Munding Aji, warga Desa Pejagoan Kecamatan Pejagoan, Kebumen Jawa Tengah berhasil menjinakkan ular-ular jumbo itu dan hidup berdampingan dengannya.  

Segerombolan anak usia di bawah 10 tahun mengerumuni ular-ular piton yang dikeluarkan dari kandang oleh pemeliharanya, Munding Aji di Desa Pejagoan Kecamatan Pejagoan, Kebumen Jawa Tengah.

Saat matahari mulai naik dengan panasnya yang masih segar, Aji menjemur ular-ularnya di pelataran. Ia dibantu temannya membersihkan satu persatu ularnya dari kotoran yang menempel di kulit menggunakan lap. 

Butuh cukup banyak waktu bagi Aji untuk menyelesaikan pekerjaannya, sebab ular-ular besar itu tidak mau diam, melainkan terus bergeliat ke segala penjuru. 

Melihat Sisi Lain Piton di Tangan Pehobi ReptilULAR PITON. Seorang warga Desa Pejagoan Kecamatan Pejagoan, Kebumen, memangku ular piton usai dikeluarkan dari kandangnya. Foto oleh Irma Mufikah/Rappler

Ular-ular yang dilepas dari sarangnya itu seketika jadi pusat perhatian para bocah. Nabil dan teman-teman kecilnya mengajak ular-ular itu becanda dengan tawanya yang riang. 

Tanpa rasa takut, anak-anak belia ini ikut mengeluas dan berusaha mengangkat tubuh sang ular, meski harus sempoyongan karena keberatan. Nabil bahkan tidak canggung mengalungkan ular Sanca yang masih belia ke pundaknya. Munding Aji tetap mengawasi anak-anak itu untuk menjamin keamanan mereka. 

"Saya tidak takut karena ularnya jinak,"kata Nabil

Anak-anak di kampung ini ternyata sudah akrab dengan keberadaan teptil tersebut. Wajar mereka tidak takut, malah menjadikan ular-ular itu sebagai teman bermain. Demikian halnya dengan para orang tua yang "dipaksa" hidup bertetangga dengan ular-ular besar tersebut. 

Mereka tidak lagi khawatir hidup berdampingan dengan ular yang mematikan. Kendati demikian, beberapa ibu rumah tangga masih terlihat menjaga jarak ketika ular besar itu dilepaskan dari sangkar. Namun mereka tetap menyaksikan dari kejauhan bak menikmati hiburan. 

Bian (22), warga sekitar mengaku mulanya enggan bersentuhan dengan ular-ular piaraan Aji. Ukurannya yang besar sempat membuat bulu kuduknya berdiri kala melihatnya. 

Yang ada di benak perempuan itu hanyalah bayangan mengerikan perihal keganasan reptil tersebut. Namun lambat laun persepsinya berbalik setelah mengetahui reptil itu jinak. Ia tidak lagi merasa takut, justru ikut membantu mengeluarkan ular-ular yang tidak kuat diangkat satu orang itu dari sarangnya. 

"Awalnya takut, karena yang dilihat di televisi itu kan ngeri. Tapi ternyata yang ini jinak,"katanya

Sudah sepuluh tahun ini, Munding Aji memelihara piton. Ia ternyata bukan kali ini saja memelihara reptil berbahaya. Aji mengaku sempat memelihara buaya. Namun reptil jenis itu dirasanya tidak cocok dipelihara karena susah dijinakkan. Meski telah lama dirawat, kata dia, predator itu sewaktu-waktu bisa berubah agresif dan buas hingga membahayakan pemeliharanya. 

Karena itu, Aji memutuskan beralih ke piton yang dinilainya lebih memikat dan mudah dijinakkan. Aji membeli beberapa anakan piton seharga Rp 300 ribu dari kenalannya lalu memeliharanya di rumah.

"Saya beli dari orang waktu ular itu masih kecil dan masih agresif,"kata Aji

Semakin lama, koleksi piton Aji terus bertambah. Hingga sekarang, pemuda itu telah memiliki 10 piton jenis Sanca Kembang dan Albino Reticulated Python dengan ukuran rata-rata 8 sampai 10 meter berbobot mencapai 2 kuintal. 

Melihat Sisi Lain Piton di Tangan Pehobi ReptilBERMAIN. Anak-anak desa Pejagoan Kecamatan Pejagoan, Kebumen bermain dengan ular-ular Sanca Kembang piaraan Munding Aji. Foto oleh Irma Mufikah/Rappler

Ular-ular itu ditempatkan terpisah pada 10 kandang ukuran sekitar 2x1,5 meter yang dibangun di sisi rumahnya. Dinding kandang dibuat dengan kaca transparan sehingga aktivitas ular itu terlihat dari luar. Aji membuatkan kolam kecil di dalam kandang untuk kotak minum ular sekaligus tempat berendam satwa tersebut. 

Terbayangkan bagaimana kerepotan Aji bertahun-tahun membesarkan ular-ular itu dari masih anakan hingga mencapai ukuran maksimal. Tidak ada alasan lain bagi Aji untuk memelihara ular-ular itu, selain hobi yang melahirkan kepuasan tersendiri baginya. 

"Saya merasa puas kalau melihat ular-ular itu sudah menjadi besar,"katanya

Ditawar Rp 150 juta

Aji menamai setiap ular kesayangannya. Rambo, nama itu disematkan pada ular jenis Sanca Kembang berukuran paling besar, yakni mencapai panjang sekitar 10 meter dengan bobot dua kuintal. Dinamakan demikian karena ular itu punya bodi besar dan menakutkan seperti tokoh Rambo dalam film luar negeri. 

Tak ayal, Rambo yang kini memasuki usia 10 tahun itu sering jadi pusat perhatian dan diistimewakan. Rambo bahkan pernah ditawar seorang kolektor seharga Rp 150 juta. Meski dihargai satu mobil, Aji ternyata memilih tidak melepas reptil kesayangannya itu. 

"Saya tidak mau jual ular-ular saya,"katanya

Sanca lain yang tidak kalah favorit adalah Syahrini. Dinamakan demikian karena ular ini punya motif batik yang cantik serta bodi yang seksi. Ular ini berukuran panjang sekitar 8 meter dengan bobot 1,5 kuintal. Demikian halnya ular lain yang sudah punya nama panggilan masing-masing, di antaranya Vira, Selly, Jeni dan Faldi. 

Melihat Sisi Lain Piton di Tangan Pehobi ReptilSYAHRINI. Ular Piton bernama Syahrini saat dikeluarkan dari kandangnya di Desa Pejagoan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen. Foto oleh Irma Mufikah/Rappler

Selain Sanca Kembang dengan warna kulit bermotif mirip kembang yang khas, Aji juga memelihara piton jenis Retic Albino. 

Beda dengan Sanca Kembang, Retic Albino punya karakter warna kulit yang cerah. Selly, sesuai namanya, Retic Albino itu punya fisik yang cantik. Tubuh ular itu punya motif batik yang unik, kombinasi kuning cerah dengan hijau muda dan putih. Kecantikan Selly seakan menutupi kesan ganas pada sisi lain ular tersebut. "Warga dari luar daerah juga ada yang kesini untuk sekadar lihat ular-ular besar di sini,"katanya

Aji punya kiat perawatan khusus sehingga bisa membesarkan piton-piton tersebut hingga sekarang. Ia memahami betul katakter piaraannya sehingga menentukan cara dia merawat ular-ular itu. Ia tahu kapan ularnya merasa lapar hingga membutuhkan asupan makanan. 

Menurut Aji, ia cukup memberi makan setiap ular piaraannya sebulan sekali. Setiap ular ukuran besar rata-rata bisa menghabiskan 10 ekor ayam setiap kali makan. Setelah itu, ular itu akan berpuasa sampai merasa lapar kembali bulan depan. Ia pun rela merogoh kocek dalam untuk memberi makan 10 ularnya tersebut. Selain makan, Aji selalu memperhatikan kebutuhan air minum piaraannya. 

"Air di kandang jangan sampai kering. Kalu sudah agak surut, saya isi kembali sehingga air terus penuh,"katanya

Aji juga selalu memerhatikan kebersihan ular dan kandangnya. Dua hari sekali, ia rutin mengeluarkan ularnya itu keluar kandang lalu membersihkan ular itu dan menjemurnya di bawah terik matahari. Ia juga rajin membersihkan kotoran hewan itu agar tidak mengendap di dalam kandang. 

Pada saat tertentu, Aji membiarkan ularnya di kandang ketika memasuki proses ganti kulit (shedding). Pada masa sensitif  itu, ular tidak boleh diusik agar tidak stres hingga perubahan morfologinya terganggu. 

Aji bahkan hafal ciri ularnya saat memasuki masa berahi. Saat ingin kawin, reptil itu biasanya menunjukkan sikap tak wajar, antara lain tidak mau makan meski sudah waktunya lapar. 

Meski piaraannya telah memasuki usia kawin, Aji tidak pernah melepaskan ular betina dan jantan dari kandang dalam waktu bersamaan. Ia masih khawatir, jika ular beda kelamin itu dipertemukan, akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Ular bisa berubah agresif yang justru membahayakan bagi orang di sekitarnya. 

Karena itu, ia hanya mempertemukan ular ular-ular itu dengan sesama jenisnya sehingga tidak terjadi kontak seksual. 

"Apalagi ular ular itu belum pernah kawin, kalau ketemu lain jenis bisa agresif,"katanya.

—Rappler.com

Topic:

Just For You