Comscore Tracker

Mereka Bicara Cinta: Perjuangan Menembus Perbedaan yang Berakhir di Pelaminan

Ketika cinta meruntuhkan perbedaan budaya dan latar belakang keluarga

Jelang Hari Kasih Sayang tahun ini, kami menghimpun kisah-kisah cinta nyata dari orang-orang biasa tanpa rekayasa. Semoga bisa menginspirasi pembaca untuk lebih percaya lagi pada kekuatan cinta.

JAKARTA, Indonesia —Kisah cinta Woro Hendrati (39), seorang make up artist dan kekasihnya Arnaud Deloffre (32) tak ubahnya seperti kisah di film drama romantis. Keduanya memulai hubungan asmara mereka secara tidak sengaja. Di tengah perjalanan, banyak rintangan dan halangan yang menghadang. Tapi pada akhirnya, Woro yang akrab disapa Lolo dan Arnaud mampu membuktikan bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.

Inilah kisah cinta dua insan yang berbeda negara, status, latar belakang budaya dan keluarga serta terpisah jarak dan rentang usia seperti yang dituturkan Lolo pada Rappler di awal Februari lalu.

Pertemuan pertama

Sebenarnya pertemuanku dengan Arnaud itu tidak disengaja. Satu kali di akhir tahun 2013, aku sedang menikmati makan malam dengan klienku di sebuah restoran di Jakarta. Kebetulan restoran itu tak terlalu ramai malam itu. Selain meja kami, ada dua meja lainnya yang terisi.

Oh iya, aku saat itu menyandang status sebagai single parent. Aku memiliki satu anak perempuan dari pernikahanku yang pertama. Aku bercerai dari suamiku tahun 2009.

Malam itu, salah satu meja dihuni dua pria asing. Sejak awal salah satu pria asing di meja itu terlihat ingin berkenalan dengan kami. Karena terus menerus berusaha berkomunikasi dengan kami, akhirnya kami mengundang dua pria itu ke meja kami untuk bergabung. Saat itulah salah satu pria itu berujar dalam bahasa Inggris yang kurang lebih artinya, “Tahu enggak, dari tadi teman saya ini bilang kalau dia suka sama kamu,” ujarnya.

Teman yang dimaksud itulah yang nantinya kukenal sebagai Arnaud Deloffre, pria yang sukses mencuri hatiku. Saat itu kami baru tahu kalau Arnaud baru saja tiba di Jakarta. Dia bekerja di sebuah perusahaan perminyakan di Indonesia. Arnaud asli Prancis.

Teman Arnaud ini berbeda 180 derajat darinya. Ia sangat cerewet dan tak berhenti bicara dan menggoda. Sementara Arnaud terlihat anteng dan cool saja. Beberapa kali aku dan temanku menggerutu mengeluhkan sifat teman Arnaud yang terlihat sangat flirty. Tentu saja kami menggerutu dengan bahasa Indonesia sampai Arnaud menjawab, “Ya dari tadi kalian ngomong, aku ngerti. Karena aku bisa ngomong bahasa (Indonesia)”. Aku pun malu semalu-malunya.

Percakapan berlanjut. Akhirnya aku pun tahu bahwa Arnaud berusia 7 tahun lebih muda dariku. Karena itu pula aku tak memiliki ekspektasi apapun selain berkenalan dan berteman. Meski akhirnya malam itu mereka mengantarkan kami pulang dan bertukar nomor telepon, aku tidak berpikir lebih.

Kali kedua

Setelah pertemuan pertama itu, berselang beberapa hari, pas di hari terakhir tahun 2013, teman Arnaud menghubungi kami dan mengajak kami hadir di pesta kantor mereka. Kami menolah karena merasa belum mengenal mereka dengan baik, terlebih teman-teman kantor mereka.

Akhirnya mereka yang mendatangi kami di Plaza Senayan. Saat kami bertemu, Arnaud sudah di bawah pengaruh minuman keras dan penampilannya berantakan. Tapi ketika melihatku, dia langsung mengenali. Saat itu aku berpikir, “Sialan, aku salah pilih date (teman kencan) nih.” Tapi toh, kami sudah di sana. Ya, lebih baik menikmati saja.

Dan sepanjang pesta itulah aku seperti melihat sisi berbeda dari Arnaud. Meski dalam kondisi berantakan, tak sekalipun dia lalai menjagaku dari pria-pria lain. Sampai-sampai saat itu aku dikira pacarnya dia. Ke manapun aku pergi, dia selalu ada di sampingku sampai pesta berakhir.

Saat mengantarkanku pulang, aku ingat sekali, posisi kami di depan Plaza Senayan sedang menunggu taksi. Kondisi gerimis dan dia membuka jasnya dan menutupi kepalaku, mencoba melindungiku dari hujan. Aku rasanya kayak ada di adegan film Korea karena dia sangat gentleman! Saat itu aku yang tadinya cuek dan tak peduli, mulai luluh.

Mereka Bicara Cinta: Perjuangan Menembus Perbedaan yang Berakhir di PelaminanBERAKHIR BAHAGIA. Meski penuh halangan dan rintangan, pasangan ini sukses melangkah ke pelaminan. Foto dari dokumen pribadi Woro Indrati

Di dalam taksi saat perjalanan pulang adalah puncaknya. Saat itu kami berciuman. Aku tidak menyangka, tapi he’s a great kisser. Mungkin saat itulah aku mulai benar-benar “jatuh dan meleleh". Sesampainya di rumah aku langsung berkata pada temanku bahwa aku ingin bertemu lagi dengan Arnaud.

Cinta tumbuh dengan sendirinya

Setelah itu, kami pun mulai pendekatan dan rutin bertemu. Meski sudah dekat, namun aku belum berharap banyak. Salah satu pertimbanganku yang paling utama adalah perbedaan usia kami yang cukup mencolok. Dia tujuh tahun lebih muda dariku.

Menurut pengalamanku, cowok yang lebih muda cenderung hanya berpikir soal dirinya sendiri. Seringnya selfish dan demanding juga, terutama soal waktu. Karena itu aku masih ragu untuk serius dengan pria lebih muda. Tapi karena aku melihat cara dia memperlakukanku, aku membuka diri untuk menjalani hubungan ini.

Dia pria yang baik. Untuk hal-hal kecil saja dia rela berkorban. Aku juga melihat dia sangat sopan dan itu yang bikin aku akhirnya jatuh cinta. Kami selalu punya kenangan yang indah tentang banyak hal. Meski cuma ngobrol tapi karena nyambung dan nyaman, seiring berjalannya waktu, akhirnya cinta itu tumbuh dengan sendirinya.

Sebenarnya, aku duluan yang ngomong “I love you” ke dia. Itu setelah 4 atau 5 bulan kami rutin bertemu. Percaya atau enggak, aku selalu merasa seperti dejavu ketika berdekatan dengan dia. Setiap kali kami bersentuhan, ingatanku seperti diputar flashback. Aku sempat berpikir dia seperti suamiku dari kehidupan yang lalu. Bahkan aku sempat nanya ke dia, “Have we ever met before?”. Itu saking aku enggak pernah ngerasain seperti ini dengan pria lain.

Saat itu, untungnya kami memiliki perasaan serupa. Dia selalu bilang bahwa sejak remaja dia memiliki kriteria perempuan idaman. Dari dulu dia pengin punya pasangan Asian girl dengan rambut panjang.

Tanpa komitmen

Sejak awal hubungan ini aku sudah tidak berharap terlalu banyak. Tapi selama aku nyaman dengannya, aku menikmati hubungan kami. Sejak awal juga aku sudah tahu kalau dia tidak percaya dengan pernikahan dan tidak akan pernah mau menikah. Itu bagian dari hal-hal jelek yang memang sudah kami share satu sama lain sejak awal. Dia pun tahu banyak sifatku yang jelek.

Karena itu aku pun menjalani hubungan ini dengan tulus. Tidak ada niatan apa pun. Aku tidak pernah meminta uang darinya. Dia pun tahu itu. Aku tidak menyembunyikan apapun darinya. Semua sifat jelekku, dia sudah tahu. Tapi meski begitu, dia tetap nice dan sopan. Ini juga yang bikin aku kagum sama dia. Walaupun lebih muda, dia dewasa dan bijaksana.

Mereka Bicara Cinta: Perjuangan Menembus Perbedaan yang Berakhir di PelaminanKOMPAK. Hubungan Arnaud dengan Vania, anak semata wayang Woro sangat kompak. Foto dari dokumen pribadi Woro Indrati

Meski saat itu tahu bahwa hubungan kami tidak akan berlanjut serius pun, aku masih nyaman. Dan aku tidak ada keinginan untuk mencari pasangan lain. Begitu pun dengan dia. Tapi manusia, apalagi perempuan, tidak bisa dipungkiri, punya harapan jauh di dalam hati.

Setelah 10 bulan kami jalan, tiba-tiba dia minta datang ke rumahku. Saat itu aku berpikir, untuk apa juga dia datang? Toh kami tidak punya masa depan. Tahu sendiri keluarga Indonesia kalau sudah ada pasangan anaknya datang ke rumah, pasti berharapnya banyak. Aku pun menolak.

Setelah kuberi pengertian, akhirnya dia malah balik bertanya apakah aku mau pergi ke Prancis untuk diperkenalkan pada keluarganya. Akhirnya tahun 2015 itu sebagai hadiah ulang tahun, ia mengajakku pergi ke Prancis. Dan di situ sebenarnya aku sudah merasa sangat cinta. Semua karena personality-nya.

Sepulang dari Prancis, saat momen Lebaran 2016 akhirnya dia datang ke rumahku untuk pertama kalinya. Saat itu pun aku sudah wanti-wanti ke orang tua dan keluarga untuk tidak bertanya soal rencana menikah. Orang tuaku sepakat. Dan saat itu cuma lebih banyak ngobrol biasa. Di mata orang tuaku saat itu, Arnaud terlihat tampan dan berbadan besar serta baik. Itu saja, tak ada komentar berlebihan.

Sebenarnya, setahun setelah kami berhubungan, aku sempat bilang bahwa dia tahu cerita hidup dan masa laluku. Aku sudah melewati semuanya. Dia tahu mantan suamiku seperti apa, seperti apa aku membesarkan anak sendiri, gimana aku harus tunduk pada orang tua dan keluarga yang masih sangat tradisional dan memegang teguh agama dan adat Jawa.

Tapi di sisi lain, dia juga sempat bilang ke aku bahwa “I want to grow old with you and I want to make you happy”. Aku juga bilang bahwa untuk bisa mewujudkan itu, jalan satu-satunya adalah menikah. Karena dia pikir di Indonesia bisa seperti di Eropa yang pasangan bisa living together tanpa ikatan apa-apa. Sementara aku datang dari keluarga Muslim yang taat.

Karena itulah, aku jelaskan bahwa prinsipku berbeda. Aku punya anak dan aku harus memberi contoh yang baik pada anakku. Bagaimana aku bisa mengajarkan nilai yang baik ke anakku kalau begini kondisinya. Itu aku jelaskan ke dia. Kalau kami tidak menikah, aku mungkin tidak akan bisa terus menerus dengan dia karena anakku pun butuh sosok ayah, pengin punya real family.

Toleransi

Urusan kesepakatan untuk bisa menikah belum selesai, masih banyak banyak masalah yang menghadang kami. Salah satunya adalah perbedaan agama. Aku Muslim, sementara dia tidak percaya Tuhan.

Tapi dalam hubungan kami sehari-hari, sebenarnya tidak ada masalah berarti. Aku tetap salat di depan dia. Aku dan anakku tetap puasa. Dia pernah bertanya, “Kenapa orang harus puasa?” Aku coba menjelaskan sebisaku. Tapi dia tetap menghormatiku. Saat aku salat, dia masuk ke kamar sampai aku selesai salat. Ketika aku puasa, dia juga enggak mau makan di depanku.

Dalam hati, aku berharap dia bisa menikah denganku, jadi mualaf dan jadi imam yang baik. Tapi aku sadar semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses. Mungkin dengan sering melihat aku salat dan puasa, dia bisa menghargai nilai itu.

Aku sering bilang ke dia bahwa aku sudah melewati banyak masa sulit. Dan di saat seperti itu, aku merasa Tuhan benar-benar baik ke aku dan membantuku. Jadi aku percaya banyak cara Tuhan membantuku secara langsung ataupun lewat orang lain. Lebih susah menjelaskan ke dia karena dia tidak percaya keberadaan Tuhan. Saat itu aku bilang, Tuhan itu ibarat cinta. Cinta itu dirasakan  dan diyakini, tapi tidak bisa dilihat.

Kadang aku sering berdoa juga sama Tuhan supaya Tuhan “menampar” dia. Maksudnya supaya Tuhan beri dia hidayah dan enlightment supaya dia bisa melihat kebesaran dan kuasa Tuhan.

Itu soal agama. Kurasa itu yang terberat. Agama dan keinginan berkomitmen. Soal perbedaan lainnya seperti budaya dan kebiasaan, tidak terlalu kami rasakan. Mungkin karena dia juga sering traveling dan berpindah-pindah karena pekerjaannya, jadi dia lebih mudah beradaptasi.

Tapi untuk banyak hal, seperti pekerjaan dan disiplin, seperti kebanyakan orang Barat, dia cukup tegas dan tidak neko-neko.

Happy ending

Meski diterpa banyak masalah, aku yakin Tuhan bekerja di hubungan kami. Saat kontrak kerjanya di Indonesia berakhir pertengahan 2017, kami mau tidak mau harus bicara soal hubungan kami. Di satu sisi dia tidak mau berpisah dariku, meski aku sudah ikhlas. Aku sungguh ikhlas jika memang kami tidak berjodoh sebagai suami istri. 

Di sisi lain, orang tuaku juga berat memberikan restu pada kami. Sampai akhirnya Arnaud bersikeras untuk bertemu ayahku. Tujuannya untuk meminta izin menikahiku di luar negeri karena ia masih bersikeras tidak mau memeluk agama Islam. Tentu saja orang tuaku tak mengizinkan. Aku pun seperti berada di tengah-tengah. Di satu sisi aku mencintai dan menghormati orang tuaku, di sisi lain, aku juga mencintai Arnaud.

Singkat cerita, akhirnya kami harus berpisah karena dia harus meninggalkan Indonesia dan pindah ke Italia. Tapi kami masih berhubungan. Aku terus bilang ke dia bahwa kami tidak mungkin terus bersama kalau tidak menikah. Dan tidak mungkin menikah karena dia bukan Muslim.

Dia sempat geram karena tidak setuju dengan prinsip itu. Tapi waktu itu aku benar-benar memohon padanya. Demi aku, demi cinta. Aku pun sudah pasrah jika dia tidak setuju dan kami berpisah. Sampai akhirnya dia berkata, “Just tell me what I have to do to be a Moslem”.

Tepat sehari sebelum ulang tahunku, tepatnya 11 November 2017, dia datang ke rumahku dan resmi menjadi mualaf di sebuah masjid di dekat rumahku.

Mereka Bicara Cinta: Perjuangan Menembus Perbedaan yang Berakhir di PelaminanPRE WEDDING. Sesi pemotretan pre-wedding Lolo dan Arnaud jelang pernikahan mereka. Foto dari dokumen pribadi Woro Indrati

Sehari setelahnya, 12 November, tepat di hari ulang tahunku, Arnaud resmi melamarku. Waktu kami berbicara, dia bilang bahwa sudah sejak lama dia ingin ngomong soal ini. Dia lantas berlutut dan bertanya, “Will you marry me?”. Reaksi pertamaku adalah tertawa dan membalas, “Kamu enggak usah nanya juga aku pasti mau”.

Dia pun memberiku cincin dan hadiah untuk ulang tahunku. “I love you,” katanya waktu itu. rencananya, kami akan menikah 3 Maret 2018 nanti di Jakarta. Beberapa anggota keluarganya pun akan datang dari Prancis. Dan pernikahan kami digelar dengan nuansa Jawa. 

Semoga ini untuk selamanya…. —Rappler.com

Topic:

Just For You