Comscore Tracker

Imlek, Saatnya Memberikan Penghormatan Tertinggi di Depan Altar Gus Dur

Gus Dur adalah satu-satunya tokoh Muslim yang punya sinci di Gedung Rasa Dharma

Oleh Fariz Fardianto

SEMARANG, Indonesia —Suasana Gedung Rasa Dharma di Jalan Wotgandul, Semarang, Jawa Tengah, terlihat ramai pada Kamis pagi 8 Februari.

Sejumlah pengurus Lansia Dharma Senja sedang menggelar pertemuan rutin untuk membahas datangnya perayaan Imlek 2569 yang jatuh tepat 16 Februari nanti.

Ong Ek Hok, Ketua Lansia Dharma Senja berujar menjelang perayaan Imlek dirinya sedang mempersiapkan acara bersih-bersih altar abu yang ada di tengah aula gedung.

Di dalam altar tersebut, Ong menyatakan terdapat sinci bertuliskan nama K.H. Abdurrahman Wahid sebagai bentuk penghormatan atas sumbangsih Presiden ketiga Indonesia tersebut bagi warga etnis Tionghoa.

"Keberadaan sinci berguna untuk melacak silsilah leluhur, mau melihat keturunannya sampai ke tingkat paling awal menjadi mudah," ungkapnya kepada Rappler.

Gus Dur Punya Marga Tan

Jika ditelusuri dari silsilah keluarganya, Gus Dur, sapaan akrab mendiang Abdurahman Wahid menurutnya mempunyai marga Tan.

Fakta tersebut diperkuat saat semasa hidupnya Gus Dur pernah mencari silsilah  leluhurnya sampai ke China. "Karena Gus Dur punya marga Tan. Sinci yang berukir nama Gus Dur tersebut sudah ada di sini sejak lima tahun terakhir. Itu sudah sesuai persetujuan dari pihak keluarganya sebagai bentuk penghormatan tertinggi sebagai Bapak Tionghoa Indonesia," terangnya.

Ia sendiri berpendapat jika Gus Dur berperan besar dalam menghidupkan kembali tradisi kebudayaan khas Tionghoa yang sempat dilarang pada era Orde Baru.

Imlek, Saatnya Memberikan Penghormatan Tertinggi di Depan Altar Gus DurALTAR. Sinci bertuliskan nama K.H. Abdurrahman Wahid yang terpasang di dalam altar Rasa Dharma. Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

Gus Dur, lanjutnya tidak pernah membeda-bedakan latar belakang agama seseorang dalam setiap kebijakannya. Gus Dur juga aktif membela hak-hak warga peranakan Tionghoa yang kerap dikebiri.

"Saat masih hidup beliau, segala sesuatu ngurus surat kependudukan dan lainnya selalu disama ratakan. Gus Dur sering ngasih nasehat dan arahan-arahan yang bijak. Gus Dur bisa mengembalikan hak hak orang Tionghoa dibandingkan zaman Presiden Soeharto kita banyak ditindas," katanya.

Perayaan Imlek yang meriah tiap tahun tak lepas dari peran Gus Dur. Jika awalnya Imlek hanya dirayakan secara tertutup di tiap rumah. Namun, ketika diangkat menjadi presiden, Gus Dur memperbolehkan Imlek dirayakan secara massal.

"Makanya kami buatkan altar khusus menghormati arwah Gus Dur. Setiap tanggal 1 dan 15 pada penanggalan China pasti banyak yang sembahyang di sini. Gus Dur lah satu-satunya tokoh Muslim yang punya sinci di Gedung Rasa Dharma."

Menyambut Musim Semi

Sedangkan bagi Lie Rizki Kencana Dewi, seorang warga kawasan Pecinan, Hari Raya Imlek semula merupakan perayaan untuk menyambut musim semi di Republik Rakyat Tiongkok.

Di negeri asalnya, orang-orang yang melihat berbagai macam tanaman yang tumbuh subur di seluruh penjuru negeri dengan merayakan penuh semarak tanpa mengenal latar belakang agama, suku dan ras.

"Jadi tidak hanya umat Konghucu saja, tetapi semua agama mulai Islam, Nasrani, Hindu sampai Buddha juga merayakan turut merayakan Imlek," ujar Dewi.

"Ini semua berkat jasa Gus Dur walau hanya sebentar memimpin Indonesia tetapi jasanya sangat besar bagi kami," sambungnya.

Tahun Baru Imlek kini juga ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keppres Nomor 19/2002 sejak 2003 silam. Selain Indonesia, Imlek juga jadi hari libur nasional di Brunei, Filipina, Korea, Malaysia, Mauritius, Singapura, Tiongkok, Thailand dan Vietnam.

Ia pun tidak bisa membayangkan jika tanpa campur tangan Gus Dur, rangkaian perayaan Imlek pasti tidak pernah ada di Indonesia.

"Gus Dur adalah pahlawan bagi warga Tionghoa. Ketika Imlek kita selalu mengingat bahwa Gus Dur punya jasa yang melestarikan Imlek. Kebijakannya berdampak bagus bagi penjualan tiket kereta dan pesawat yang kian laris, para wisatawan ramai berkunjung ke Semarang. Selain itu juga dijadikan ada cuti bersama sehingga perayaannya tambah semarak," katanya.

Pasar Semawis

Untuk tahun ini, Pasar Semawis kembali digelar pada 14-16 Februari 2018. Berbagai kegiatan yang masuk dalam Pasar Semawis nanti bertajuk Pasamuan Anak Zaman Now.

Imlek, Saatnya Memberikan Penghormatan Tertinggi di Depan Altar Gus DurPECINAN SEMARANG. Gedung Rasa Dharma di Jalan Wotgandul yang menjadi lokasi perkumpulan sosial bagi masyarakat Tionghoa yang bermukim di Kawasan Pecinan Kota Semarang. Foto oleh Fariz Fardianto/Semarang

Ong Ek Hok menambahkan pada tanggal 28 Februari nanti pengelola Gedung Rasa Dharma akan menggelar kegiatan bersih-bersih altar sebagai upaya merayakan Imlek.

"Semua sinci dewa-dewa dan sinci Gus Dur kita bersihkan semua karena Imlek menjadi perayaan suci bagi umat Konghucu," bebernya.

Dilain pihak, Abdul Ghofar, Koordinator Gusdurian Kota Semarang mengapresiasi atas penghargaan yang diberikan warga Tionghoa kepada Gus Dur.

Ia mengatakan Gus Dur menjadi tokoh penuh toleransi yang membela hak hidup kaum minoritas di Indonesia. "Terutama beliau menjadi yang terdepan dalam menghapus sikap diskriminasi yang ditujukan bagi warga Tionghoa," tuturnya.

—Rappler.com

Topic:

Just For You