Comscore Tracker

Di Balik Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba

Ratusan penumpang masih dinyatakan hilang

JAKARTA, Indonesia —Di tengah kemeriahan perayaan Idulfitri tahun ini, sebuah tragedi terjadi di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Kapal motor penumpang bernama Sinar Bangun diketahui tenggelam saat beroperasi dan mengangkut ratusan penumpang.

Kapan insiden terjadi?

Angkutan penyeberangan yang sehari-hari mengangkut barang dan penumpang bernama KM Sinar Bangun diketahui terbalik sekitar pukul 17:15 WIB pada Senin, 18 Juni.

Diketahui, KM Sinar Bangun berangkat dari Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, menuju Pelabuhan Simanindi di Kabupaten Samosir.

Berapa banyak penumpang dan muatan barang di kapal?

Tidak ada keterangan resmi soal berapa jumlah penumpang dan muatan barang yang dibawa oleh KM Sinar Bangun saat kecelakaan terjadi. Jumlah penumpang dan muatan barang pun tidak terekam dengan baik karena manifes penumpang yang tak jelas.

Bahkan, banyak penumpang yang diduga naik ke kapal tanpa memiliki tiket. Menurut keterangan yang dilansir AFP, ada dugaan kapal berbahan utama kayu ini beroperasi tanpa izin.

Berapa jumlah korban?

Hingga Kamis, 21 Juni, menurut keterangan pihak Basarnas, diduga sebanyak 193 orang masih hilang. Jumlah ini cukup fantastis, bahkan mencapai tiga kali lipat dari estimasi awal. Angka ini pun masih kemungkinan berubah karena belum ada yang tahu persis berapa penumpang yang ada di atas kapal saat kecelakaan terjadi.

Sebelumnya, pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ada sekitar 80 orang yang ada di atas di KM Sinar Bangun bersama belasan sepeda motor saat kapal tersebut terbalik dan lantas tenggelam.

Di Balik Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau TobaSELAMAT. Suasana haru terlihat saat pertemuan antara korban selamat dengan anggota keluarga mereka. Foto oleh Lazuardy Fahmi/AFP

Namun kemudian pihak kepolisian dan Basarnas menyebut ada 192 orang yang hilang. Angka ini diperoleh dari keterangan para anggota keluarga dan kerabat para korban yang mengaku bahwa keluarga mereka ikut menumpang di KM Sinar Bangun.

"Tapi karena banyak yang tidak punya tiket, jadi tidak jelas berapa orang yang sebenarnya ada di atas kapal saat itu." ujar Muhammad Syaugi, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) pada AFP.

Hingga Selasa, 3 Juli, pihak berwenang secara resmi merilis jumlah korban hilang sebanyak 164 orang, termasuk 3 di antaranya anak-anak. Sementara 3 penumpang lain dinyatakan meninggal dunia dan 21 orang selamat dari tragedi ini.

Sampai kapan pencarian korban akan dilakukan?

Menurut pihak Basarnas, pencarian korban akan dilakukan setidaknya dalam seminggu ke depan, mengingat ukuran Danau Toba yang sangat luas dan dalam. Danau Toba sendiri adalah salah satu laut terdalam dan terluas di dunia. Luasnya tercatat sekitar 1,145 kilometer persegi.

Basarnas juga menyebut telah menurunkan sekitar 400 orang personelnya untuk melakukan pencarian terhadap korban yang masih belum diketahui nasibnya.

Hingga Kamis, 28 Juni, pihak Basarnas memastikan akan memperpanjang waktu pencarian korban dan kapal KM Sinar Bangun hingga Sabtu, 30 Juni. Selain memasang alat canggih di KM Dosroha, Basarnas juga menggunakan dua buah jaring pukat yang berada di KMP Sumut I dan KMP Sumut II.

Apa yang jadi penyebab kapal tenggelam?

Menurut keterangan korban selamat, saat KM Sinar Bangun berlayar, kondisi cuaca memang tidak terlalu baik. Ombak besar pun terlihat di dekat kapal saat berlayar setengah perjalanan. Seharusnya, durasi perjalanan di kapal ini sekitar 40 menit.

Meski begitu, hingga kini belum ada keterangan resmi soal penyebab KM Sinar Bangun terbalik dan kemudian tenggelam.

Bagaimana reaksi keluarga korban?

"Kami akan tetap di sini sampai mereka menemukan jenazah saudara laki-laki saya," ujar Nurhayati pada AFP. Nurhayati adalah satu dari ratusan warga di sekitar Danau Toba yang tengah cemas menanti kepastian soal nasib anggota keluarga mereka.

Di Balik Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau TobaDAFTAR KORBAN. Para keluarga dan kerabat dari penumpang KM Sinar Bangun masih terus menunggu kepastian kondisi anggota keluarga mereka. Foto oleh Ivan Damanik/AFP

"Kami hanya mau melihat jenazahnya dan membawanya pulang." tambah Nurhayati.

Sementara di itu, Suwarni terlihat dilingkupi kesedihan yang teramat dalam. Hingga kini ia belum tahu jelas bagaimana nasib anak laki-laki dan tunangannya, yang ia yakini ikut menumpang di KM Sinar Bangun.

"Kenapa tim SAR lambat sekali? Saya kecewa karena tidak ada perkembangan. Kembalikan anak saya," ujar perempuan berusia 55 tahun itu pada AFP.

Perasaan Nurhayati dan Suwarni juga turut dirasakan oleh Jadianto Nainggolan. Pria berumur 40 tahun ini sibuk mencari kabar dan kepastian soal nasib belasan anggota keluarganya yang jadi penumpang KM Sinar Bangun, termasuk satu di antaranya sang keponakan yang masih berusia 3 tahun.

Sambil menunjukkan foto para anggota keluarganya pada AFP sebelum mereka naik ke kapal, Jadianto berharap mereka semua ditemukan. "Kami berharap pada tim SAR. Tapi saya pikir mereka (tim SAR) belum berbuat maksimal. Sepertinya lebih banyak personel SAR yang ada di pelabuhan daripada yang ada di danau. Padahal pasti banyak orang yang terjebak di dalam kapal," ujarnya.

Apakah polisi sudah menetapkan tersangka pelaku?

Kamis, 21 Juni, kapten sekaligus pemilik KM Sinar Bangun yang bernama Tua Sagala telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk ditanyai lebih lanjut soal bencana ini. Tua ada di antara 18 orang yang berhasil selamat dari kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun, Senin, 18 Juni.

"Kapten kapal sekarang sudah bersama polisi. Tapi kami belum bisa menginterogasinya karena kondisinya masih trauma," ujar Yusri Yunus, Kepala Bagian Penerangan Satuan (Kabag Pensat) Divisi Humas Polri.

Sementara hingga 25 Juni, tercatat sudah ada 4 orang yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni kapten kapal dan tiga petugas senior di Pelabuhan Simanindo. "Tiga orang ini seharusnya bertugas memonitor dan memeriksa kelayakan kapal," ujar Kapolri Tito Karnavian di Mabes Polri, Senin, 25 Juni.

Bagaimana perkembangan proses evakuasi?

Menurut Kepala Basarnas M. Syaugi, pihaknya telah menggunakan perangkat scan sonar untuk mendeteksi keberadaan KM Sinar Bangun. Dan pada Minggu, 24 Juni, alat ini disebut mendeteksi adanya objek di kedalaman sekitar 450 meter di Danau Toba. Menurut analisa lanjutan, ukuran objek ini sekitar 20x5 meter.

Meski begitu, hingga kini belum bisa dipastikan apakah objek yang terdeteksi tersebut benar adalah KM Sinar Bangun atau tidak dan masih harus menunggu proses penelitian lebih lanjut lagi. "Bentuk siluetnya memang menyerupai kapal," ujar Syaugi.

Basarnas sendiri telah menurunkan sekitar 17 hingga 20 kapal untuk melakukan proses evakuasi tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Kamis, 28 Juni, tepat 11 hari setelah pencarian dilakukan, akhirnya Basarnas menemukan titik terang. Alat bernama Remoted Operated Vehicle (ROV) yang berada di KM Dosroha dikabarkan menangkap gambar objek korban penumpang KM Sinar Bangun. Dari keterangan resmi Basarnas yang dirilis, tampak pula gambar sepeda motor yang diduga tenggelam saat kejadian. Objek tersebut diketahui berada di kedalaman 450 meter.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M. Syaugi memastikan penemuan ini lewat beberapa foto yang dirilis. "Jadi kita firm dengan ROV bisa melihat benda tersebut dari KM Sinar Bangun VI,” ujar Syaugi di keterangan pers yang dirilis Basarnas.

Di Balik Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau TobaSEPEDA MOTOR. Foto sepeda motor tenggelam yang berhasil direkam Basarnas dengan alat ROV di lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun. Foto dari Basarnas
Di Balik Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau TobaFoto yang menunjukkan dugaan tubuh korban tenggelamnya KM Sinar Bangun. (Basarnas)

Setelah kepastian penemuan objek ini, maka langkah selanjutnya yang akan dilalui Basarnas adalah mencari cara untuk mengangkat dan mengevakuasi korban.

Namun pada Senin, 2 Juli, seluruh apart pemerintah yang terkait dengan proses evakuasi ini menyepakati untuk secara resmi menghentikan proses pencarian terhadap korban tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Alasan utama penghentian proses pencarian dan evakuasi adalah karena kondisi Danau Toba yang tidak memungkinkan. Di hari Senin pula, pihak berwenang menemui secara langsung para keluarga korban untuk menyampaikan dan menjelaskan keputusan penghentian pencarian tersebut.

Kebanyakan keluarga korban mengaku menerima keputusan pemerintah meski tak sedikit pula yang tetap menginginkan pencarian dilakukan.

—dengan laporan AFP/Rappler.com

Topic:

  • Yetta Tondang

Just For You