Comscore Tracker

Bincang Mantan: Apa Saja Kriteria Istri Idaman?

Percuma cari calon istri yang sempurna. Enggak bakal ada!

Oleh Adelia Putri dan Bisma Aditya

JAKARTA, Indonesia — Kedua penulis kolom baru Rappler, Bincang Mantan, adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius.

Bisma: Yang penting bisa diajak berjuang

Kriteria istri idaman menurut saya adalah dia harus berpenampilan menarik, baik hati, seiman, ngobrolnya nyambung, bisa ngurus anak-anak, bisa ngurus keuangan keluarga, bisa akrab dengan mertua, pintar, dan seterusnya yang kalau dilanjutkan list ini tidak akan ada habisnya.

Tanya laki-laki manapun di dunia, pasti jawabannya mirip-mirip deh. Karena itu semua, meski agak muluk dan ngalah-ngalahin kriteria calon gubernur, memang yang secara wajar dicari oleh orang yang cari istri. 

Syarat-syarat itu ibaratnya “syarat administratif” deh, yang kalau tidak terpenuhi bisa aja kandidat itu langsung dicoret dari pertimbangan (tergantung orangnya sih). Lebih dari itu pasti setiap orang punya kriteria khasnya masing-masing yang pasti dipengaruhi oleh keadaan si pencari istri itu.

Kalau saya pribadi, yang sekarang memang sedang mencari pasangan sambil meniti karier dan kehidupan, punya satu karakter yang sangat amat saya mau ada pada istri saya kelak, yaitu: 

Bisa diajak berjuang.

No, saya tidak cari yang bisa diajak bersusah-susah kok, karena saya optimis akan bisa kasih dia semua yang bikin hidupnya jauh dari kata susah (amin!!).

Bisa diajak berjuang di sini artinya, kalau ada orang yang mencari suami yang sudah super kaya dan punya usaha di mana-mana sejak usia muda, itu tandanya dia enggak mau berjuang. Penginnya langsung hidup enak aja. Saya enggak menyalahkan kok, tapi ya bukan tipe saya aja.

Selain bukan tipe saya, saya pun tahu diri karena saya masih merintis semuanya sekarang dan masih belum mencapai taraf seperti yang mereka mau. Nama belakang saya pun cuma “Aditya” bukan “Gates” atau “Hilton”, sehingga saya tidak memiliki privilege untuk mendapat yang saya mau tanpa perlu berjuang.

Saya maunya dia yang waktu saya masih merintis usaha dan harus ngirit ya enggak ngeluh tapi justru kasih dukungan dan semangat. Dia yang ketika tahu saya nyaris putus asa akan ada di samping saya dan ngajak untuk sama-sama kasih pandangan arogan ke masalah yang ada. Dia yang ketika saya akhirnya sukses, tidak berpuas diri dan terus dorong saya untuk terus jadi lebih baik. Itu yang saya cari!!

Tapi yakinlah tidak ada perjuangan yang sia-sia, bagi siapapun calon saya nanti, yang rela berjuang sama-sama ketika mungkin banyak temannya yang “beruntung” dapat orang yang bisa provide hal-hal fancy tanpa harus berjuang, i will give you my world. Kalau saya berjuang dan saya punya Rp 500, ya saya akan pakai Rp 500 itu untuk bahagiain kamu. Simple kan?

Saya suka banget sama ungkapan ini : 

I gave you $10, he gave you $20.

You felt that he was better just because he gave you more.

But he had $200, and all I had was $10.

Adelia: Duh, jangan kebanyakan kriteria, deh!

Saya sering sekali mendengar laki-laki mengeluh tentang sulitnya mencari calon istri, dan betapa banyaknya kriteria yang mereka inginkan: tidak hedon, tidak banyak belanja, jago masak, rajin merapikan rumah, dan segenap perilaku stereotipikal lainnya.

Permisi, mohon maaf nih Mas, kamu cari istri apa cari pembantu? Kamu pengin perempuan yang enggak suka belanja itu karena kamu enggak mampu membiayai dia atau takut penghasilan dia lebih tinggi? Kamu ingin istri tinggi semampai dengan wajah mulus, memangnya kamu seganteng apa? Kamu banyak mau begitu, memangnya kamu seoke apa? Oh, oke banget? Kok susah nyari yang mau sama kamu?

Satu lagi yang bikin saya kesal: kalau laki-laki udah ngomong “Pokoknya gue mau cari istri yang mau diajak susah!”

Permisi lagi nih Mas, Mas mau susah kok ngajak-ngajak? 

Kata Mama saya: “Jangan mau sama laki-laki yang nyari istri yang bisa diajak susah. Mama kerja keras untuk ngegedein kamu supaya kamu enggak hidup susah, terus dia seenaknya aja gitu nyuruh kamu hidup susah sama dia? Lah ngapain? Susah mah sendiri aja, jangan ngajak-ngajak.”

Beneran deh, punya kriteria jangan aneh-aneh: yang penting untuk masalah fundamental seperti keyakinan dan prinsip hidup selaras, yang lain bisa menyusul. kalau dari awal udah menutup diri dengan kriteria-kriteria aneh, bisa-bisa kesempatanmu malah makin tertutup atau kamu melewatkan orang yang sebenarnya menarik kalau kamu mau mengenal lebih dekat.

Lagian ya, jodoh siapa yang tahu. Hati-hati kualat lho, bisa-bisa yang kamu benci malah jadi sifat utama jodohmu.

Percuma cari calon istri yang sempurna: enggak bakal ada. Kalaupun ada, lihat saja nanti setelah sekian lama menikah juga akan berubah — kamu pun juga berubah, dan enggak ada yang tahu kalian akan seperti apa nanti. Pernikahan itu pusatnya ada di kesabaran dan belajar menjadi lebih baik secara terus menerus. 

Makanya saya bilang jangan kebanyakan mau. Bukan saya bilang jangan punya kriteria sama sekali. Maksud saya, kecuali untuk hal-hal fundamental dan prinsipil, jangan terlalu memaksakan kriteria fisik atau kebiasaan, deh. 

Dan buat sister-sister di luar sana, jangan kebanyakan baca artikel tentang bagaimana menjadi calon istri idaman. Jangan belajar masak hanya karena "biar dapat suami", jangan takut beropini hanya karena katanya laki-laki suka cewek kalem, jangan takut kuliah S3 hanya karena ada ustaz yang bilang laki-laki takut sama perempuan yang terlalu pintar, jangan memaksa pakai stiletto "untuk terlihat cantik" kalau kamu memang sukanya sneakers. Don’t think too much about what guys want or don’t want. Urusi saja dirimu, jodoh mah enggak ke mana!

—Rappler.com

Adelia adalah mantan reporter Rappler yang kini berprofesi sebagai konsultan public relations, sementara Bisma adalah seorang konsultan hukum di Jakarta. Keduanya bisa ditemukan dan diajak bicara di @adeliaputri dan @bismaaditya.

Line IDN Times

Topic:

Just For You