BANDA ACEH, Indonesia — Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang menerapkan hukum Syariat akan menghentikan prosesi pelaksanaan hukuman cambuk di depan umum. Kebijakan ini diambil setelah pemerintah setempat mendapatkan banyak kecaman dari dalam maupun luar negeri terkait pelaksanaan hukuman cambuk di depan umum yang sudah beberapa kali dilakukan di Negeri Serambi Mekah tersebut.

Kapan aturan ini diberlakukan?

Kamis, 12 April 2018, pihak pemerintah provinsi D.I. Aceh baru saja mengumumkan pembaruan aturan pelaksanaan hukuman cambuk ini. Namun Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, dalam keterangannya tidak menyebutkan kapan pastinya aturan ini akan diberlakukan di Aceh. 

Apa isi aturan tersebut?

Menurut Irawndi Yusuf, pelaksanaan hukuman cambuk di Aceh tetap dilakukan secara terbuka, namun lokasi pelaksanaannya saja yang akan dipindahkan ke lapas, bukan lagi di area publik seperti sebelumnya.

Pelaksanaan hukuman cambuk ini masih sesuai dengan yang terdapat di Peraturan Gubernur Aceh nomor 5 tahun 2018 tentang HUkum Acara Jinayat. Meski dipindahkan lokasi pelaksanaannya, aturan baru ini pun tidak bertentangan dengan Qanun Syariat Islam yang berlaku di Aceh.

Nantinya, masyarakat umum tetap bisa menyaksikan pelaksanaan hukuman cambuk. Yang dibatasi dan dilarang hanyalah kehadiran anak-anak di bawah usia 18 tahun.

Di bawah aturan baru ini kelak, masyarakat pun tidak akan diizinkan untuk merekam pelaksanaan hukuman cambuk dalam bentuk apapun. Hanya orang dewasa dan jurnalis yang nantinya diizinkan untuk masuk ke area lapas untuk menyaksikan prosesi pencambukan.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Munawar, di kesempatan yang sama menyebut di dalam Qanun Jinayat, uqubat cambuk dilaksanakan di suatu tempat terbuka dan dapat dilihat oleh orang yang hadir. 

Bagaimana hukuman cambuk dilakukan?

Di Aceh, pelaksanaan hukuman cambuk ini lazim dilakukan untuk mereka yang diangkat melanggar hukum Syariat seperti berjudi, mengonsumsi minuman keras hingga berhubungan dengan sesama jenis.

Baca juga: Menjadi Waria di Aceh: Dibina Agar jadi ‘Laki-laki

Sebelum hukuman dilakukan, para terhukum akan diperiksa kesehatannya terlebih dahulu oleh petugas kesehatan yang ditunjuk. Setelah terhukum menempati posisi yang ditentukan, prosesi dimulai dengan membaca ayat suci Alquran, dilanjutkan dengan ceramah agama.

Hukuman juga dilaksanakan secara terbuka dan melalui proses pengadilan. Semua proses didampingi jaksa dan tim medis, sesuai dengan aturan yang dibakukan dalam Qanun Nomor 7 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Eksekusi kemudian dilakukan oleh algojo yang memakai pakai khusus, hanya menampakkan mata mereka. Jumlah cambukan disesuaikan dengan hukuman yang diterima terhukum. Tapi hukuman cambuk sebenarnya bisa digantikan dengan membayar emas murni atau hukuman penjara.

Seperti apa reaksi publik?

Layaknya dalam setiap kebijakan baru, ada pro kontra di tengah masyarakat Aceh terkait penetapan aturan baru pelaksanaan hukuman cambuk di Aceh yang akan dilakukan di dalam area lapas. Tuwanku Muhammad, salah seorang warga Aceh menyebut bahwa ia tidak setuju jika pelaksanaan hukuman dilakukan di dalam lapas.  

"Kalau hukuman cambuk dilakukan di penjara, kami yakin akan lebih banyak lagi pelanggaran hukum Syariat yang akan terjadi di Aceh," ujarnya pada AFP.

—dengan laporan AFP/Rappler.com