Comscore Tracker

Penulis Skenario, Jantung dari Sebuah Film

Indonesia masih membutuhkan banyak penulis skenario berkualitas

JAKARTA, Indonesia — Film merupakan sebuah karya seni yang melibatkan banyak pihak. Setidaknya ada delapan elemen penting yang dibutuhkan untuk membuat film, mulai dari produser, sutradara, aktor, editor, penata artistik, penata sinematografi, hingga penulis skenario.

Dari ke delapan elemen tersebut, skenario menjadi landasan bagi setiap pihak untuk memerankan bagiannya masing-masing. Setidaknya itulah yang menjadikan peranan seorang penulis skenario menjadi tak terelakkan.

Penulis skenario di mata produser

Penulis Skenario, Jantung dari Sebuah FilmRaam Punjabi dalam konferensi pers di MVP Pictures pada akhir Februari 2018. Foto dari MVP Pictures

Pentingnya peranan sebuah penulis skenario diakui oleh Raam Punjabi, produser dari rumah produksi MVP Pictures. Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun menjadi produser, menurutnya penulis skenario adalah awal pertimbangan saat ia akan membuat sebuah film. Karena sangat penting, Raam bahkan mengibaratkan penulis skenario seperti jantung dalam sebuah film.

“Kalau kanker masih bisa diobati dan perlu proses untuk memenuhi stadiumnya. Tapi kalau serangan jantung, langsung lewat. Itu adalah kunci utamanya [dalam film],” tutur Raam Punjabi di sela-sela konferensi pers di kantor MVP Pictures pada akhir Februari lalu.

Meskipun penting, namun Raam menyayangkan masih sulitnya menemukan penulis skenario yang berkualitas di indonesia. Menurutnya, sudah cukup tersedia para sutradara, director of photography (DoP), dan elemen film lainnya yang memiliki kualitas berkelas internasional. Tetapi penulis skenario masih sangat sedikit. 

“Saya bukan ingin menghina atau menjelekkan kapasitas mereka, tapi ini adalah suatu kenyataan,” katanya. Menurut Raam, masih sedikit penulis skenario di Indonesia yang bisa bersaing di dunia perfilman internasional.

Sebagai produser, skenario yang ia inginkan tentunya yang bisa menghibur dan menarik penonton agar banyak yang menyaksikan di bioskop. Oleh karena itu, bagi Raam Punjabi, skenario bukan hanya harus relatable dengan masyarakat, tetapi juga harus mampu mengaduk-aduk emosi penonton.

“Penulis yang baik adalah yang bisa memberikan skenario seperti roller coaster, perasaannya naik, muncul suatu suasana yang membuat mereka terhibur, terus juga naik turunnya emosi penonton. Itu adalah penulis skenario yang handal.”

Bahkan untuk Raam Punjabi yang telah berkecimpung di industri film selama 47 tahun, mencari penulis skenario yang tepat juga masih menjadi kesulitan.

“Sudah ada banyak sekali [penulis skenario] di lingkungan kita, tapi siapa yang mampu mengangkat cerita itu menjadi sebuah skenario yang menarik, itu perlu pertimbangan.”

Tidak mudah menjadi penulis skenario

Penulis Skenario, Jantung dari Sebuah FilmNadia Vetta (paling kanan) saat memandu acara 'Rappler Talk: Film Banda' pada Juli 2017. Foto oleh Dzikra Fanada/Rappler

Mungkin tidak banyaknya pilihan penulis skenario berkualitas di Indonesia disebabkan karena menjadi seorang penulis skenario bukanlah hal yang mudah. Salah satunya adalah perjuangan yang dilakukan Nadia Vetta, seorang penulis skenario pemula yang, karena kecintaannya pada film, ingin masuk ke industri dan memutuskan untuk memulainya dengan menulis skenario. Menurutnya, jika seseorang bisa menulis skenario, maka ia akan bisa menjalankan peran lainnya dengan lebih baik.

“Kalau gue bisa nulis, gue mau jadi apapun tuh bisa. Misalkan gue jadi aktor gue bisa kasih masukan, atau nanti kalau jadi produser gue enggak gampang dikibulin, karena gue ngerti cerita.” ujar Nadia kepada Rappler akhir Maret lalu.

Oleh karena itu, Nadia yang semula bercita-cita ingin ada di depan layar, justru mulai fokus meniti karier sebagai penulis skenario sejak 2014. Ia memulainya dengan mengikuti workshop penulisan skenario. Selain mendapatkan ilmu-ilmu teknis penulisan skenario, Nadia juga bertemu dengan orang-orang yang memiliki passion serupa. Setelah lulus dari workshop, ia dan teman-temannya mendirikan rumah produksi kecil dan mulai mengirimkan skenario-skenario mereka ke berbagai rumah produksi besar. 

“Dari situ jalan gue bisa dibilang mulai terbuka, meskipun sedikit demi sedikit.”

Nadia sempat harus mengurangi aktivitasnya menulis skenario saat bekerja penuh waktu sebagai Social Media Producer di Rappler Indonesia pada tahun 2016. Namun pada paruh kedua tahun 2017, ia akhirnya kembali aktif dalam tim penulis skenario sebagai script doctor.

Tidak lama kemudian, ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan fulltime-nya untuk mengejar impiannya sebagai penulis skenario. Meskipun hingga saat ini ia masih belum bisa mengandalkan profesi tersebut sebagai satu-satunya sumber pemasukannya, tetapi setidaknya pekerjaan sebagai penulis hampir selalu ada yang datang.

Selama kurang lebih empat tahun meniti karier sebagai penulis skenario, Nadia sudah beberapa kali menemui produser yang berminat dengan cerita yang ia tulis. Sudah ada satu ide cerita miliknya yang dibeli sebuah rumah produksi besar, meskipun hingga saat ini sepertinya belum mulai diproduksi. Selama itu pula, Nadia sempat bertemu dengan beberapa produser yang berminat dengan skenario yang ditulisnya. Tapi sering kali keinginan produser sulit dimengerti dan bertolak belakang dengan nilai-nilai pribadinya.

Salah satu contohnya, Nadia dan timnya pernah diminta menulis skenario untuk film komedi. Setelah membuat treatment sesuai dengan keinginan produser, skenario tersebut masih ditolak. Akhirnya Nadia dan timnya memutuskan untuk mundur karena sepertinya film yang ingin dibuat oleh sang produser cenderung sexist. Nadia memang memiliki keinginan untuk sedikit demi sedikit mengurangi penggambaran perempuan yang sering kali diobjektivitasi dalam film.

“Secara enggak sengaja, itu jadi komitmen gue dari awal, either gue menulis atau jadi script doctor.”

Selain itu, ada pula beberapa produser maupun rumah produksi yang sudah punya penulis langganan, sehingga para penulis baru menjadi sedikit kesulitan untuk membuktikan kemampuan mereka.

Cintai film sebelum menjadi penulis skenario

Penulis Skenario, Jantung dari Sebuah FilmSalman Aristo menulis buku 'Kelas Skenario'. Foto dari Instagram/wahana.kreator

“Saya jatuh cinta sama film dari kecil,” tutur penulis skenario Salman Aristo kepada Rappler saat menjelaskan alasannya menjadi penulis skenario.

Memiliki kecintaan terhadap film adalah hal wajib bagi seseorang yang ingin membuat film, apalagi menjadi seorang penulis skenario. Karena, menurut Salman, skenario adalah patokan bagi seluruh elemen pembuatan film.

“Seperti halnya pakai analogi pembuatan rumah, skenario adalah cetak birunya. Posisinya di situ. Semua orang tidak bisa bekerja kalau tidak punya skenario yang sama.”

Skenario yang sama itu harus bisa diinterpretasikan dengan cara yang berbeda oleh setiap elemen dalam film. Seorang sutradara harus mampu membayangkan pengadeganan dari sebuah skenario. Seorang aktor harus mampu memerankan karakter yang tertuang dalam sebuah skenario. Hal itu lah yang membuat Salman semakin mencintai film-making.

Membuat film memang tidak mudah, tapi jika seseorang memiliki kecintaan terhadap film dan merasa penulis skenario adalah peran yang tepat untuk mereka, maka mereka pasti akan memiliki motivasi yang tinggi untuk mempelajari teknis penulisan skenario.

“Bisa sekolah kalau punya kesempatan dan punya sumbernya, punya waktunya, sekolah ya sekolah. Mau belajar secara otodidak silahkan. Tapi ya setiap pilihan punya konsekuensinya sendiri-sendiri,” katanya.

Menulis skenario yang baik secara kualitas memang bisa dipelajari. Ada struktur yang bisa dipelajari, karakterisasi, cara menentukan letak plot cerita, hal-hal tersebut bisa dipelajari baik di sekolah formal maupun otodidak. Namun bukan berarti skenario yang baik menjamin larisnya sebuah film, karena menurut Salman, film dan skenario adalah dua hal yang berbeda. “Karena yang laku bukan skenarionya, yang laku adalah filmnya.”

Film memiliki banyak unsur, dan skenario adalah salah satunya. Membuat film bagus, seperti halnya membuat skenario yang bagus dan sesuai standar, ada caranya dan bisa dipelajari. Tetapi film bagus tidak sama halnya dengan film yang laku. Karena film bagus adalah bagian seni dari sebuah film, tetapi film yang laris dipasaran adalah sisi bisnis dari sebuah film.

“Analoginya bikin film bagus sama bikin film laku, kayak mau jadi pinter sama mau jadi ganteng.”

—Rappler.com

Line IDN Times

Topic:

Just For You