JAKARTA, Indonesia — Sabtu sore, 10 Februari kemarin seharusnya menjadi kenangan manis bagi rombongan anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata Ciputat, Tangerang Selatan. Mereka baru saja selesai melakukan rapat tahunan sekaligus berwisata ke kawasan Lembang dan pemandian air panas Ciater, dan sedang kembali menuju Tangerang Selatan, tempat tinggal mereka.

Namun siapa sangka, saat menuruni Tanjakan Emen, Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, bus yang mereka naiki terguling, menewaskan sebagian penumpang dan seorang pengendara motor, serta membuat penumpang lainnya luka-luka.

Kisah Meilinda yang Terhindar dari Maut di Tanjakan EmenBus terguling di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, dan menewaskan 27 orang. Foto oleh Yusup Suparman/ANTARA

Meilinda merupakan salah satu korban selamat dalam peristiwa mengenaskan tersebut yang hingga saat ini ia masih di rawat secara intensif di ruang rawat bedah Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang Selatan karena masih sakit di bagian tulang rusuknya.

Saat ditemui Rappler di ruang perawatan, Meilinda mengaku tidak memiliki firasat bahwa perjalanan bersama rekan-rekannya itu akan berakhir naas. 

“Enggak [ada firasat]. Kita happy, happy banget. Senang, namanya juga jalan-jalan,” katanya pada Senin, 12 Februari.

Saat peristiwa kecelakaan itu terjadi, Meilinda menyebutkan, para ibu-ibu yang berada di dalam bus sedang bernyanyi dan bercanda, situasi yang biasa terjadi jika para ibu-ibu sedang berkumpul.

“Kita lagi karaoke-an, lagi nyanyi-nyanyi. Tahu sendiri kan ibu-ibu, yang ngocol ya ngocol, yang bercanda ya bercanda.”

Situasi bahagia tersebut langsung berubah menjadi duka saat tiba-tiba bus yang ia tumpangi terguling. Meskipun dirinya sendiri mengalami luka yang cukup serius, namun rasa sakit itu tertutupi saat ia sadar. Dengan panik, Meilinda langsung mencari ibunya yang memang ia ajak untuk jalan-jalan. Ia sempat kebingungan, padahal sang ibu tepat berada di sampingnya.

“Yang pertama kali saya pikirkan, langsung ‘Mama, Mama di mana?’ sambil teriak. Saya kayak orang gila, kayakorang stress saya. Padahal ibu saya sudah ada di depan saya tapi saya enggak sadar bahwa itu Mama.”

Kini Meilinda dirawat di ruangan rumah sakit bersebelahan dengan ibunya, Meiza, yang juga menderita luka berat dan masih memerlukan pertolongan medis. Saat ini mereka berdua sudah dalam kondisi stabil meskipun masih membutuhkan penanganan di rumah sakit.

Meskipun saat ini kondisi kesehatannya belum pulih, Meilinda sangat bersyukur bahwa ia dan ibunya masih diberi kesempatan untuk hidup. 

Alhamdulillah, sudah sehat, selamat, walaupun begini kan kita masih dikasih nafas sama Allah, masih dikasih kesempatan.”

Kisah Meilinda yang Terhindar dari Maut di Tanjakan EmenMeilinda di rawat bersama ibunya, Meiza, di RSUD Tangerang Selatan. Foto oleh Sakinah Ummu Haniy/Rappler

Perempuan yang sehari-harinya disibukkan dengan kegiatan PKK, Koperasi, dan Bina Keluarga Balita di Ciputat, Tangerang Selatan ini mengaku sangat terpukul dengan kejadian yang menewaskan puluhan rekannya itu. Ia bahkan tidak sanggup untuk menceritakan ulang perasaannya kepada Rappler.

“Saya kalau mengingat itu sedih, sedih banget. Kita enggak pernah bayangkan dan enggak ada firasat untuk itu. Enggak ada,” katanya.

Ia pun berharap rekan-rekannya yang harus meninggal dunia dalam peristiwa ini bisa mendapatkan ketenangan di akhirat nanti.

“Mudah-mudahan yang meninggal masuk surga. Amin,” katanya.

Hingga saat berita ini diturunkan sebanyak 13 pasien masih berada di RSUD Tangerang Selatan, sementara 2 orang lainnya telah diperbolehkan pulang dan 1 pasien lainnya meminta untuk dipulangkan karena alasan pribadi.—Rappler.com