SURABAYA, Indonesia — Kehilangan sosok yang dicintai, apalagi dengan cara yang tragis, memang sulit untuk dihadapi. Namun keluarga dari Aloysius Bayu Rendra Wardana adalah keluarga yang luar biasa.

Bayu merupakan ketua relawan keamanan gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, yang meninggal dunia karena menghalau pelaku bom bunuh diri untuk masuk ke dalam gereja pada Minggu, 13 Mei kemarin.

Peristiwa naas tersebut memang tidak mudah untuk tidak dilupakan, namun bagi keluarga kehilangan Bayu bukan akhir dari segalanya. Bayu akan terus dikenang karena merupakan pahlawan yang berhasil mencegah jatuhnya korban pengeboman yang lebih banyak lagi.

Rasa bangga

Keluarga Aloysius Bayu, Korban Bom Surabaya: Sosok Aloysius Bayu Rendra Wardhana dikenal tidak banyak bicara, namun sangat penyayang. Foto dari Facebook/Aloysius Bayu Rendra Wardhana

Bayu adalah orang terdepan yang menghalau masuknya sepeda motor yang dikendarai pelaku pengeboman. Bayu menghalau sepeda motor tersebut dan berhasil mencegah lebih besarnya korban jatuh di Gereja Santa Maria Tak Bercela pada Minggu kelabu itu.

Nyawa Bayu pun tak tertolong, bahkan hingga kini jasadnya belum bisa diberikan pihak kepolisian kepada pihak keluarga. Meskipun harus meninggalkan istri dan kedua anaknya yang masih kecil, tetapi Bayu berhasil membuat banyak orang bangga kepadanya.

“Memang pahit ya, kami juga sedih. Tetapi kami bangga bahwa Bayu rela mengorbankan nyawanya untuk banyak jiwa,” ujar Rosalia Siswaty, tante dari Bayu yang menjadi juru bicara keluarga saat ditemui Rappler di rumah duka pada Selasa siang, 15 Mei. 

Jika saja Bayu tidak menghalau pelaku, bisa jadi korban yang jatuh di Gereja Santa Maria jumlahnya menjadi berlipat karena saat itu sedang berlangsung kebaktian pagi yang diikuti ratusan umat. “Bayu memiliki roh martir yang tidak dimiliki banyak orang,” tutur perempuan yang biasa disapa Waty tersebut.

Loading video...

Waty yang tinggal di Sumbawa baru bisa tiba di Surabaya pada keesokan harinya, Senin, 14 Mei. Saat tiba di rumah duka di Jalan Gubeng Kertajaya, Surabaya, Waty melihat bahwa keluarganya telah ikhlas dengan kepergian Bayu. Kesedihan yang dirasakan telah bertransformasi menjadi kebanggaan yang mendalam atas ayah dari Aaron dan Alyssia tersebut.

“[Kesedihan] itu ditumpahkan menjadi rasa bangga karena banyak orang, bahkan kalau saya katakan, banyak bangsa yang mencatat nama Bayu, Aloysius Bayu Rendra Wardana, menjadi seorang pahlawan Surabaya.”

Kebanggaan juga dirasakan Waty terpancar dari istri Bayu, Monic. Saat Waty tiba di Surabaya, Monic memeluknya sambil mengatakan “Tante, Mas Bayu sudah pergi. Mas Bayu menjadi martir di gereja. Kita tidak boleh menangis, kita tidak boleh sedih.”

Kenangan bersama Bayu

Keluarga Aloysius Bayu, Korban Bom Surabaya: Aloysius Bayu Rendra Wardhana bersama keluarganya di gereja Santa Maria Tak Bercela. Foto dari Facebook/Aloysius Bayu Rendra Wardhana

Di mata Waty, Bayu adalah sosok yang tidak banyak bicara namun memiliki kebaikan hati yang luar biasa. Ia memiliki hubungan yang sangat baik dengan keluarganya, bahkan tetap meninggalkan kesan yang dalam dengan Waty yang pindah ke Sumbawa, NTB, sejak tahun 1975. Setiap Waty datang ke Surabaya, Bayu selalu menyambut dengan pelukan hangat dan menawarkan diri untuk menemaninya.

“Ke mana pun saya pergi, dia seperti ingin menjadi pelindung. Padahal saya cuma ke depan saja, [dia bilang] ’Enggak papa Tante. Ayo tak antar,” ujar perempuan berusia 62 tahun itu.

Selain itu, Waty memaparkan bahwa Bayu telah ikut aktif dalam berbagai kegiatan gereja sejak ia kecil. Sejak sekolah dasar yang bertempat dekat dengan Gereja Santa Maria Tak Bercela, Bayu sudah sering melakukan pelayanan. Ia pun tidak menyangka bahwa Bayu akhirnya meninggal dunia saat sedang bertugas menjaga gereja.

“Kami tidak menyangka bahwa sampai akhir hayatnya dia persembahkan hidupnya untuk Tuhan.”

Waty terakhir kali bertemu dengan Bayu pada bulan September lalu saat berkunjung ke Surabaya untuk syukuran rumah makan adiknya. Memang sudah cukup lama, tetapi Waty sering menjalin kontak lewat telepon dengan keponakannya itu untuk bertukar kabar.

“‘Jaga kesehatan loh ya. Jangan cari duit saja, pelayanan, pelayanan’ [Bayu] selalu berkata begitu,” kenang Waty.

Bayu memang selalu mengingatkan agar tantenya terus melakukan pelayanan di gereja. “‘Sisa waktunya tante Waty tuh buat Tuhan saja.’ Dia selalu mengingatkan.”

Terus melangkah

Keluarga Aloysius Bayu, Korban Bom Surabaya: Rosalia Siswaty mengingat kembali sosok keponakannya, Aloysius Bayu Rendra Wardhana, yang tewas karena menghalau pelaku pengeboman di gereja Santa Maria Tak Bercela. Foto oleh Sakinah Ummu Haniy/Rappler

Hingga kini keluarga masih menunggu kepulangan jenazah Bayu dari rumah sakit. Belum bisa dipastikan kapan petugas yang berwenang akan menyerahkan jenazah tersebut karena kondisi yang cukup parah, mengingat Bayu merupakan orang yang terdekat dengan ledakan. 

Meskipun kehilangan dan memiliki rasa sedih yang mendalam, namun pihak keluarga mengaku sudah ikhlas.

“Kami sudah bisa menerima keadaan, karena yang Tuhan izinkan itu memang untuk menguji kita,” tutur Waty.

Bahkan pihak keluarga juga mengaku tidak memiliki rasa dendam kepada pelaku. “Mungkin kalau masih ada keluarga-keluarga pelaku yang masih hidup pun kami tetap mengampuni.”

Sejak peristiwa tersebut, keluarga Bayu telah mendapatkan banyak pertolongan, baik dari kerabat, pejabat daerah, maupun dari orang-orang yang tidak mau menyebutkan namanya. Banyak perusahaan atau perorangan yang memberikan sumbangan bela sungkawa untuk keluarga Bayu secara anonim. Untuk itu, Waty mewakili keluarga, ingin mengucapkan terima kasih atas doa yang diberikan untuk keluarganya.

“Kami tidak bisa membalas apa-apa tapi kami percaya bahwa Tuhan sudah menyediakan balasan yang lebih. Terima kasih.”

—Rappler.com