Comscore Tracker

Poros Ketiga Menanti Bentuk 

Cak Imin kian merapat ke Jokowi, poros ketiga sulit terbentuk

JAKARTA, Indonesia—Digagas Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrat awal Maret lalu, hingga kini poros ketiga belum juga menemukan bentuk. Bahkan, besar kemungkinan poros baru yang direncanakan menjadi pesaing kubu Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019 itu tidak bakal terbentuk. Tarik-menarik kepentingan antara ketiga parpol disebut menjadi penyebab utama gagalnya desain poros ketiga. 

Namun demikian, Partai Demokrat sebagai salah satu penggagas berkukuh poros tersebut bakal terbentuk. Wakil Ketua Partai Demokrat Sjarifuddin Hasan menyatakan, pihaknya masih terus menjajaki peluang kerja sama dengan parpol-parpol yang belum punya capres untuk membentuk poros tersebut, termasuk dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ‘sekutu’  Gerindra di Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu. 

Apa itu poros ketiga? 

Wacana poros ketiga mulai berembus saat para petinggi PAN, PKB dan Partai Demokrat menggelar pertemuan di salah satu kafe di Jakarta, awal Maret lalu. Pertemuan tersebut membahas kemungkinan membentuk koalisi parpol mengusung pasangan capres dan cawapres di luar kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Pasca pertemuan itu, sejumlah nama kader dari ketiga partai mencuat untuk dijagokan menjadi capres dan cawapres, di antaranya Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Ketua Komando Tugas Bersama (Kosgama) pemenangan Partai Demokrat di Pemilu 2019, Agus Harimuri Yudhoyono (AHY). 

Namun, bukan berarti hanya tiga partai itu saja yang bisa membentuk poros ketiga. PKS yang hingga kini belum memutuskan mengusung Prabowo sebagai capres juga membuka peluang bergabung membentuk poros ketiga. “Dalam politik tidak ada yang pasti. Itu salah satu kemungkinan yang dikaji. Masih ada waktu 2-3 bulan ke depan,” ujar Direktur Pencapresan Dewan Pimpinan Pusat PKS Suhud Alynudin di Kantor DPP PKS, 12 April lalu. 

Poros kedua terancam batal 

Dari hitung-hitungan jumlah kursi, koalisi PKS dan Gerindra sebenarnya sudah cukup mengusung pasangan capres dan cawapres di Pemilu 2019. Namun, hingga kini ‘hilal’ poros kedua belum juga terlihat. PKS yang digadang-gadang sebagai sekutu sejati Gerindra belum menyatakan sikap mendukung pencapresan Prabowo. Pasalnya, PKS meminta kadernya digandeng mendampingi Prabowo sebagai syarat dukungan. 

PKS bahkan sudah menyiapkan sembilan kader terbaik untuk diajukan dalam Pilpres 2019, yakni Ahmad Heryawan, Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Irwan Prayitno, Sohibul Iman, Salim Segaf Al Jufri, Tifatul Sembiring, Al Muzzammil Yusuf, dan Mardani Ali Sera. "Kami siap berkoalisi dengan Pak Prabowo asal cawapres diambil dari yang sembilan itu,” ujar Presiden PKS Sohibul Iman, Minggu, 15 April lalu. 

Hitung-hitungan poros ketiga

Undang-Undang Pemilu yang baru mensyaratkan perolehan suara nasional minimal 25 persen atau perolehan kursi DPR minimal 20 persen (112 kursi DPR) bagi parpol atau koalisi parpol dalam mengusung capres dan cawapres. Jika mengacu pada hitung-hitungan itu, koalisi PAN, Partai Demokrat dan PKB sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengusung pasangan. Total ketiganya memiliki 157 kursi di Senayan. 

Namun demikian, peluang poros ketiga itu sangat dipengaruhi manuver Jokowi. Peluang terbentuknya poros ketiga bisa gagal jika Jokowi menggandeng AHY atau Cak Imin sebagai cawapres. Kedua nama tersebut santer diberitakan menaruh minat yang besar untuk menjadi pendamping Jokowi. 

Selain itu, peluang poros ketiga pun mulai digembosi dengan munculnya mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai salah satu kuda hitam di sejumlah papan survei. Berbekal elektabilitas seadanya, dan didukung kekuatan relawan, Gatot mulai bermanuver mencari tiket dari parpol untuk maju ke Pilpres 2019. 

Suara-suara pesimistis 

Suara-suara sumbang terhadap wacana pembentukan poros ketiga kian menggema. Pasalnya, pendaftaran capres dan cawapres tinggal 2,5 bulan lagi. Para pengamat politik dan elite-elite parpol pun mulai pesimistis poros tersebut bakal terbentuk. 

Ketum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra misalnya, menilai peluang terbentuknya poros ketiga pada Pilpres 2019 makin tipis. "Kalau saya melihat poros ketiga itu makin kecil kemungkinannya terjadi. Apalagi disebut ada partai biru yang akan gabung ke kubu Pak Jokowi. Kita enggak tahu partai biru itu siapa, apakah Demokrat atau PAN," kata Yusril. 

Hal senada diungkapkan DIrektur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan. Djayadi memperkirakan, PKS pada akhirnya akan tetap berkoalisi dengan Gerindra. "Dan pernyataan dari PKS selama ini, tampaknya paling rasional PKS ke Gerindra. Apalagi kalau peluang PKS menjadi cawapres kan ada kalau Gerindra jadi motornya yaitu Prabowo," ujarnya. 

Di sisi lain, Cak Imin yang notabene pemegang kebijakan di PKB justru kian merapat ke Jokowi. Hal itu setidaknya bisa terlihat dari bertebarannya spanduk Jokowi-Cak Imin di berbagai daerah dan dibentuknya posko JOIN (Jokowi-Cak Imin) oleh PKB. Melihat konstelasi politik saat ini, bisa jadi wacana poros ketiga hanya sekadar basa-basi politik.

—Rappler.com

 

Topic:

Just For You