Comscore Tracker

Nyanyian Sunyi Simpatisan Novel untuk Jokowi

Lewat aksi panggung di depan Istana Negara, sejumlah musisi menyuarakan ekspresi kegelisahan lambannya penuntasan kasus Novel

JAKARTA, Indonesia–Sebuah panggung kecil didirikan di Taman Demokrasi yang jaraknya hanya selemparan batu dari Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (11/4) petang itu. Tak banyak alat musik yang disiapkan. Hanya sebuah gitar akustik dan sebuah cajon (drum kotak). Bisa dipastikan, seberisik apa pun musik yang dimainkan, ‘orang-orang’ Istana tak bakal mampu mendengarnya.

Sekira pukul 15.45 WIB, rocker Melanie Subono melangkah menuju panggung dan mengambil mikrofon. Sedikit perkenalan diucapkan. Dua buah lagu—Sajak Suara dan Nyalakan Tanda Bahaya—langsung ia tandaskan. “Dia hanya ingin bicara. Dia hanya ingin bertanya. Mengapa kau kokang senjata, menggeletar ketika suara-suara itu, menuntut keadilan,” lengking Melanie saat menyanyikan Sajak Suara. 

Di sela-sela aksi panggung yang sepi penonton itu, Melanie mengatakan, dua buah lagu itu dipersembahkan untuk 'merayakan' genap 365 hari peristiwa penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Aksi itu juga sekaligus sebagai sebentuk kritik bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan para pembantunya yang tak kunjung menuntaskan kasus tersebut.

"Walaupun mungkin tidak hilang atau mati, tapi (Novel) disiram air keras. Buat gue ini adalah pelecehan HAM. Sama seperti kasus-kasus yang sifatnya ingin membongkar dosa pejabat, pasti hasil akhirnya seperti ini (buntu). Kita lihat aja, Pak Jokowi bisa motoran ke mana-mana dan melakukan berbagai kegiatan, masa enggak bisa sih menyelesaikan?" ujar dia menyinggung aksi blusukan Jokowi menggunakan motor berjenis chopper di Sukabumi, belum lama ini.

Akibat disiram air keras oleh dua orang yang tak dikenal tahun lalu, kini mata kiri Novel buta. Novel pun masih harus bolak-balik ke Singapura untuk perawatan. Di sisi lain, belum ada tanda-tanda pihak kepolisian mampu mengungkap siapa penyerang Novel. Namun demikian, Melanie tak kehilangan asa untuk memperjuangkan keadilan bagi Novel. 

"Enggak kelar di sini pun saya yakin masih ada tempat lain untuk selesai nanti. Cuma andai saja saya melihat usaha lebih dari pemerintah untuk menuntaskan ini. Kasus ini bisa diselesaikan kalau dikerjain dengan niat. Kalau tidak, makanya yang akan terbaca pelaku adalah pejabat atau yang masih menjabat, atau akhirnya saya harus percaya apa yang saya denger bahwa polisi terlibat di situ," tuturnya.

Pentas kecil-kecilan itu digelar Amnesti Internasional, KontraS, LBH Jakarta, YLBHI dan Indonesia Corruption Watch (ICW) menggandeng sejumlah musisi. Usai Melanie, Simponi Band yang juga bersimpati terhadap nasib Novel mengambil alih panggung, disusul kemudian oleh rapper Saykoji. Selain musik, sejumlah peserta aksi juga membawakan puisi untuk mengekspresikan kegelisahan mereka menyoal lambannya penuntasan kasus Novel.

Nyanyian Sunyi Simpatisan Novel untuk JokowiGrafis oleh Rappler Indonesia

 

Tuntut TGPF

Koordinator Amnesti Muda Amnesti Internasional Indonesia, Yansen Dinata, mengatakan, aksi bertajuk Tiktok Novel itu digelar untuk mendesak Presiden Jokowi membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) kasus Novel.  “Setahun bukan waktu yang sebentar dan pembentukan TGPF bisa menjadi awal bagaimana Presiden Jokowi berkomitmen terhadap keadilan Indonesia. Kalau tidak ada tanggapan, kita bisa menilai sendiri,” cetusnya. 

Selain aksi di dunia nyata, desakan terhadap pemerintah pun dilancarkan Amnesti di dunia maya dengan menggalang dukungan dari warganet lewat petisi di situs change.org yang juga disebarkan via tik-toknovel.com. Petisi yang diluncurkan tak lama setelah Novel disiram air keras itu kini telah ditandatangani lebih dari 100 ribu warganet.  “Jadi ini juga bukti masyarakat juga ingin kebenaran segera terungkap,” imbuhnya.  

Nyanyian Sunyi Simpatisan Novel untuk JokowiBerfoto. Koordinator Amnesti Muda Yansen Dinata dan rocker Melanie Subono berfoto bersama di Tiktok Novel. Fofo oleh Christian Simbolon/Rappler

Temuan Tim Kuasa Hukum 

Kepada Rappler, kuasa hukum Novel Baswedan, Haris Azhar mengatakan, tak mengetahui secara pasti kendala-kendala yang dihadapi polisi dalam menuntaskan kasus Novel. Namun demikian, dari pemantauan yang dilakukan tim kuasa hukum selama sebulan terakhir, menurut Haris, timnya menemukan banyak petunjuk dan keterangan saksi yang tidak ditindaklanjuti penyidik.

"Misalnya soal CCTV. Waktu dipanggil Presiden, Kapolri (Tito Karnavian) bilang ada 50 rekaman CCTV yang diperiksa, tapi yang kita bisa identifikasi jumlah CCTV itu enggak lebih dari 15. Bahkan, lebih sedikit lagi. Tapi, dari yang sedikit itu pun belum semuanya diambil oleh polisi," ujar dia.

Tak hanya itu, menurut Haris, banyak saksi yang diperiksa polisi tidak terbuka mengungkap fakta penyerangan terhadap Novel. Ia bahkan mengklaim menyimpan keterangan dari 4 saksi kunci yang bisa menghadirkan titik terang dalam mengungkap siapa penyerang Novel.

“Nanti kita sampaikan temuannya ke Komnas HAM dan Polri temuannya. Jadi ketika mereka diperiksa atau diminta diperiksa itu, mereka tidak mau menyerahkan pengetahuannya atau informasinya ke polisi karena ada problem ketidakpercayaan sama polisi. Ya, kan mereka tahu Novel dipersekusi oleh polisi dengan berbagai cara selama beberapa tahun terakhir,” ujarnya. 

Kurang lebih satu jam aksi Tiktok Novel digelar di depan Istana Negara. Hanya puluhan peserta aksi yang hadir. Di lain sisi, Istana pun sedang kosong karena Jokowi tengah berada di Papua untuk kunjungan kerja. Namun demikian, Haris berharap, ekspresi kegelisahan para simpatisan Novel bisa sampai ke telinga Jokowi. 

“Nah, ini argumentasi yang harusnya didenger oleh Presiden. Kalau Presiden masih sibuk di atas motor bilang masih nunggu polisi (menyerah), saya pikir itu salah. Ini bukti bahwa Presiden enggak denger suara masyarakat untuk segera bikin TGPF untuk menjawab distrust terhadap penuntasan kasus Novel. Selama distrust enggak dijawab, saksi-saksi penting dan informasi-informasi penting  enggak bakal keluar,” tuturnya.  

–Rappler.com

Line IDN Times

Topic:

Just For You