Comscore Tracker

Ironi Nasib Jepang dan Korea Selatan

Yang satu lolos dengan banjir hujatan, lainnya...

JAKARTA, Indonesia—Peracik strategi tim nasional Jepang Akira Nishino tahu apa yang sedang ia kerjakan. Sepuluh menit menjelang laga Jepang kontra Polandia berakhir, Akira menginstruksikan para pemainnya bermain bertahan. Padahal, pasukan Samurai Biru sedang tertinggal 1-0 di laga penentu di Stadion Volograd, Rusia, Jumat dini hari, 29 Juni 2018. 

Berpegang pada aturan FIFA, Akira memutuskan meletakkan nasib Jepang pada hasil laga Senegal-Kolombia di Samara, Rusia yang lokasinya puluhan kilometer dari Volograd. Akira tahu, di laga itu, Senegal juga tertinggal 1-0. Akira tahu, jika situasi tak berubah, maka FIFA bakal meloloskan Jepang biarpun memiliki poin dan jumlah gol yang sama dengan tim dari Benua Afrika itu. 

Perjudian Akira berbuah manis. Wasit meniup peluit berakhirnya laga. Polandia tak mampu membukukan gol tambahan. Begitu pula James Rodrigues dan kawan-kawan. Senegal pun ‘menangis’ karena harus angkat koper dari Piala Dunia dengan cara yang memilukan. 

“Saya lebih suka jika tersingkir dengan cara yang berbeda tapi aturannya memang seperti itu dan kami harus menghormati aturan FIFA,” ujar pelatih Senegal Aliou Cisse seperti dikutip Guardian. 

Aturan yang dimaksud Cisse ialah aturan poin fair play yang diciptakan FIFA. Sesuai aturan itu, jika dua tim memiliki poin yang sama, jumlah gol yang sama, serta bermain imbang dalam pertemuan di antara keduanya, maka jumlah kartu kuning selama fase grup menjadi penentu kelolosan.

Dari tiga laga di fase grup, Jepang mengantongi 4 kartu kuning sedangkan Senegal membukukan 6 kartu kuning. Bisa dikata, Jepang lolos karena ‘berkelakuan baik’ di lapangan. Sepanjang sejarah, ini kali pertama poin fair play menjadi penentu lolos tidaknya sebuah tim ke babak knock out.

“Situasinya sangat disesalkan. Biarpun akhirnya kami (Jepang) yang lolos. Piala Dunia memang seperti ini. Hal-hal seperti itu terjadi. Saya juga merasa tidak enak, tapi kami lolos. Dan mungkin (bermain bertahan) itu keputusan yang tepat,” ujar Akira. 

Pada menit 82 laga Jepang-Polandia, Akira memasukkan gelandang Makoto Hasebe. Hasebe tentu saja ditugaskan untuk membantu pertahanan. Hasebe juga membawa instruksi dari Akira kepada rekan-rekannya agar bermain ‘santai’ dan tak mengambil risiko. Formasi Jepang pun berubah dari 4-4-2 menjadi 4-1-4-1. 

Tak seperti lazimnya laga penentu di fase grup, menit-menit akhir laga Jepang-Polandia pun berjalan hambar. Terlebih, meskipun memenangi laga, Polandia yang hanya mengantungi 3 poin sudah pasti tak lolos. Di sisa 10 menit pertandingan, kedua tim praktis hanya menjalankan ‘rutinitas’ di lapangan. 

Jepang bahkan tak sekalipun berani melangkah ke zona pertahanan Polandia. Di lapangan, Hasebe terlihat berulangkali mengingatkan rekan-rekannya untuk mengurangi tempo permainan. Hasebe dan kawan-kawan tampak tak peduli meskipun siulan dan ejekan membahana di seluruh stadion.

“Cara bermain kedua tim memalukan di 10 menit terakhir pertandingan. Apa yang mereka tampilkan ialah segala sesuatu yang tidak ingin kita lihat di Piala Dunia. Laga itu berakhir menjadi sebuah lelucon,” ujar mantan gelandang Everton Leon Osman kepada BBC. 

Komentar lebih pedas diutarakan pelatih Irlandia Utara Michael O’Neill. “Sebagai seorang pelatih, saya bingung dengan keputusan menempatkan nasib tim pada hasil pertandingan lain. Saya simpatik dengan Jepang, tapi saya harap mereka dibantai di babak berikutnya,” ujar dia. 

Ironi Nasib Jepang dan Korea SelatanGOL. Penyerang Korsel Son Heung-min merayakan golnya ke gawang Jerman bersama rekan-rekan setim. Foto instagram @tkfa

Tersingkir dengan kepala tegak

Jika Jepang lolos ke babak berikutnya dengan diberondong hujatan, maka Korea Selatan justru tersingkir dengan kepala tegak. Pasalnya, di laga terakhir Grup F, tim berjuluk Taeguk Warriors itu justru mampu menumbangkan raksasa sepak bola Eropa, Jerman, dengan skor 2-0. 

Meskipun sudah dipastikan tersingkir sebelum laga itu dimulai di Kazan Arena, Kamis, 27 Juni 2018, Son Heung-min dan kawan-kawan memasuki lapangan dengan mentalitas yang sama seperti laga-laga lainnya: untuk menang. 

Terus diberondong serangan oleh tim Panser Jerman hampir sepanjang laga berjalan, ‘saudara Jepang’ di Asia Timur itu tetap bertahan sekuat tenaga. Hingga akhirnya pada menit 90 (+2), sepakan Kim Yong-gwon menjebol gawang Jerman. Syahdan, satu gol lainnya dilesakkan Son Heung-min lewat serangan balik super cepat di penghujung laga. 

Alhasil, Jerman harus angkat koper dari Piala Dunia. Hanya mengantongi 3 poin, Jerman bergabung dengan Italia dan Prancis terkena kutukan juara bertahan: petahana juara Piala Dunia tak mampu lolos dari fase grup. 

“Tentu saja kami kecewa tidak lolos, tapi kami bisa bangga atas kemenangan ini. Kami mengalahkan juara dunia dan normalnya ini adalah sebuah mimpi yang sulit dicapai,” ujar Heung-min usai laga. 

Bukan hanya publik Korsel saja yang merayakan kemenangan itu. Di Mexico City, fans timnas Meksiko berkumpul di depan kedutaan besar Korea Selatan. Selebrasi digelar. Nama Son Heung-min dan kawan-kawan dielu-elukan. 

Kemenangan Korsel memang menjadi berkah bagi Meksiko. Mengantungi enam poin dari kemenangan atas Jerman dan Korsel, nasib Meksiko ketika itu di ujung tanduk setelah dibantai 3-0 oleh Swedia di laga terakhir Grup F. Untungnya, Korsel tampil gemilang dan mampu menekuk Jerman yang jauh diunggulkan. 

“Tidak ada perbedaan antara orang Korea dan Meksiko hari ini. Kita merayakan kemenangan ini bersama,” ujar Byoung-jin Han, konsuler jenderal di Kedubes Korea, seperti dikutip Telegraph. 

Bersama para fans Meksiko, di sela-sela perayaan, Byoung-jin bahkan sempat menegak tequila, minuman khas warga kelas bawah di Meksiko. “Kita (Korea dan Meksiko) sekarang bersaudara,” teriak kerumunan fans. 

—Rappler.com 

Topic:

  • Christian Simbolon

Just For You